Saturday, June 28, 2008

Sihir Perempuan


Kumpulan Cerpen

Penulis: Intan Paramaditha

Penerbit: Kata Kita


Buku ini berisi 11 cerpen yang menceritakan perempuan dari sisi mistis. Jadi semua cerpen dalam buku ini berkaitan dengan hantu, darah, kegelapan, vampir dan pembunuhan. Jangan khawatir, gaya penceritaan di cerpen-cerpen ini bukan seperti gaya penceritaan sinetron mistis religi yang sekarang banyak di tayangkan di tv, jadi tetap asyik untuk dibaca.

Ada beberapa cerita yang menurut saya berkesan pada kumpulan cerpen ini. Misalnya pada cerpen “Perempuan Buta tanpa Ibu Jari”. Cerita ini menghadirkan tokoh utama “Sindelarat”. Kisahnya memang mengadopsi dari cerita Cinderella yang sudah sering kita baca. Tapi penyelesaian cerita pada cerpen ini bukan seperti biasanya dan yang pasti melibatkan banyak darah.


Ada juga cerita tentang boneka porselen dalam “Sejak Porselen Berpipi Merah itu Pecah”. Cerita dalam cerpen ini mengingatkan saya pada cerita prajurit berkaki satu dan penari balet yang ada di kumpulan cerita HC Andersen. Penari balet digambarkan oleh boneka porselen. Boneka porselen ini justru tidak mau disandingkan dengan pengantinnya, boneka porselen Yin Yin lebih suka berada dalam peti yang gelap, karena dia suka kegelapan dan ingin bertemu kekasihnya dalam kegelapan yaitu setan (Huiiiii….sereeeem ‘kan…..

Cerita yang paling berkesan menurut saya adalah “Darah”. Yang membuat saya terkesan dengan cerita ini adalah mitos tentang adanya hantu perempuan pemakan darah. Saya pertama kali mendengar mitos itu saat saya SMP. Saat itu saya benar-benar percaya dengan cerita itu dan membuat saya jadi hati-hati berurusan dengan darah. Ternyata penulis cerpen ini juga punya cerita dengan mitos itu. Apa memang mitos itu selalu diceritakan pada setiap anak perempuan? Dan apakah mitos itu memang benar adanya?

Buku ini saya temukan September lalu di Palasari. Dilihat dari cover-nya, buku ini didominasi warna gelap, kesannya sudah serem. Begitu saya membuka plastik pembungkusnya, kesan seremnya jadi bertambah. Kertas buku ini ternyata kertas buram dengan bau kertas yang menurut saya bisa menambah kesan seram. Untuk membuktikannya, silahkan baca sendiri buku ini. Pesan saya, jangan baca buku ini pada waktu anda sedang sendirian di rumah………………


My theory is that people who don’t like mystery stories are anarchist”(Rex Stout)

Rico de Coro



Judul Buku : Filosofi Kopi Penulis : Dewi Lestari Penerbit : Gagas Media
Posting friendster blog: July 23, 2006

Dari semua kumpulan cepen dan prosa di buku filosofi kopi, cerpen tentang ‘Rico de Coro’ inilah yang menurut saya paling OKE banget. Dee sangat dapat merangkai semuanya sehingga pembaca menganggap bahwa kerajaan kecoak itu ada dan berdampingan hidup dengan manusia.

Rico de Coro adalah seorang pangeran kecoak dari kerajaan kecoak yang menganggap diri mereka berbeda dengan kecoak got atau kecoak WC. Ibu Rico de Coro telah meninggal disemprot dengan baygon sesaat setelah dia meletakkan telurnya yang berisi Rico de Coro di bawah meja.

Bapak Rico de Coro yang bernama Hunter (Raja Kecoak) merasa bahwa mereka adalah kecoak yang berwawasan luas dan kuat. Hunter beranggapan demikian karena Hunter sendiri dibesarkan dibalik kotak TV yang dimiki keluarga Haryanto sehingga Hunter mengetahui perkembangan di luar sana. Rico de Coro jatuh hati pada Sarah, putri bungsu keluarga Haryanto. Menurut Rico, Sarah hampir tidak pernah mengusiknya dan bangsanya, karena saat melihat kecoak dari jarak 5 meter, sarah pasti sudah lari terbirit-birit. Berbeda dengan Tante, Oom Haryanto, Natalia, David dan pembantu di rumah itu yang selalu mengusik para kecoak dengan semprotan baygon.

Bahkan Rico de Coro pada akhirnya merelakan nyawanya untuk melindungi Sarah dari sengatan Tuan Absurdo, mutan kecoak hasil percobaan laboratorium yang dibawa Natalia dari sekolahnya. Tuan Absurdo pun akhirnya mati setelah mengeluarkan racunnya yang sebenarnya di peruntukkan bagi David. Saat Rico masih dalam keadaan lemas akibat terkena sengatan Tuan Absurdo, harus merelakan tubuhnya hancur dan mengeluarkan cairan setelah dipukul berkali-kali oleh David menggunakan sandal karet. Tapi Rico de Coro tetap membawa cintanya untuk Sarah, putri keluarga Haryanto.

Membaca cerpen itu saya jadi ingat waktu saya kecil. Dulu saya memiliki kucing bernama Betty. Saat itu saya juga beranggapan bahwa kucing juga memiliki kehidupan seperti manusia, mereka juga punya perasaan, termasuk ketika Betty punya anak dan harus menyelamatkan anak-anaknya dari terkaman suaminya yang saya beri nama Bartom. Kisah yang saya buat sendiri itu saya ceritakan kepada orang-orang di rumah termasuk kepada adik saya yang saat itu belum mengerti apa-apa. Saat saya SMA dan tidak terlalu memikirkan tentang kisah-kisah hewan di sekitar saya, ternyata adik saya punya hobi yang sama dengan saya. Adik saya menganggap cicak yang ada di kamar mandi kami (dia beri nama cicak itu Henry), memiliki kisah tersendiri. Menurutnya, Henry adalah cicak yang berbeda sifatnya dari cicak kebanyakan (lebih pintar) dan Henry juga punya perasaan. Mungkin cerpen Dee tentang Rico de Coro ini juga merupakan khayalan Dee waktu kecil tentang kecoak-kecoak yang memang hidup berdampingan dengan manusia.

Untuk cerpen dan prosa lainnya pada buku Filosofi Kopi (134 halaman) memang lumayan bagus sih (baca sendiri ya…..). Tapi memang cerpen Rico de Coro ini menurut saya tetap yang terbaik pada buku itu.

Clinical Pharmacokinetics: Pocket Reference

Editor: John E Murphy, Pharm.D
American Society of Health System Pharmacists, 2005.
Posting friendster blog : June 20, 2006

Buku ini sangat membantu untuk panduan monitoring penggunaan obat sehingga sangat berguna untuk dibaca oleh teman-teman farmasis maupun non farmasis. Meskipun farmasi terbagi dalam berbagai bidang (tehnologi, kimia farmasi, mikrobiologi, fitokimia, clinical dll) pada dasarnya tujuan akhirnya adalah untuk keberhasilan terapi dan menekan biaya pengobatan sehingga dapat meningkatkan ‘quality of life” dari pasien (masih ingat prinsip ini ‘kan?...). Untuk teman-teman non farmasi perlu juga membaca buku ini, karena di buku ini anda dapat mengetahui apakah terapi yang anda dapatkan sudah cukup rasional baik dari segi jenis obat dan penyesuaian dosis pada setiap individu yang berbeda, karena sering dijumpai beberapa kasus terapi yang tidak rasional karena tidak disesuaikan dengan kondisi pasien. Pasien biasanya tidak banyak yang tahu dan ini memang disengaja oleh pihak medis yang merawatnya, jadi kalo anda mendapatkan terapi yang tidak rasional , mari tuntut hak anda agar mendapatkan terapi yang baik.

Pada bab awal buku ini memberikan review singkat tentang nasib obat dalam tubuh secara umum, termasuk dengan faktor-faktor yang sangat mempengaruhi disposisi obat dari dalam tubuh seperti volume distribusi, ikatan obat dengan protein, metabolisme dan interaksi obat. Pada buku ini juga dijelaskan cara penyesuaian dosis obat untuk keadaan-keadaan tertentu misalnya gagal ginjal, sirosis hati, pasien anak-anak dan manula dll. Penjelasan yang diberikan hanya singkat sekali karena sifatnya hanya review, tetapi cukup mencakup faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan dalam “dosage adjustment”. Penjelasan untuk tiap-tiap obat dibagi dalam tiap bab tersendiri.

Obat yang tercakup dalam buku ini cukup lengkap, mulai dari obat yang sudah kita kenal cukup lama sampai obat yang “lumayan baru” (baru untuk 10 th yang lalu he3x, alias gak baru banget) seperti tacrolimus, sirolimus sudah ada penjelasannya dibuku ini. Penjelasan untuk tiap obat mencakup absorpsi, distribusi, metabolisme, ekresi, dan interaksi obat. Dengan adanya penjelasan mengenai nasib obat dalam tubuh pada buku ini, setidaknya kita bisa memperkirakan sistem penghantaran obat yang tepat agar terapi obat tersebut menjadi efektif dan efisien (sangat membantu bagi teman2 farmasis).

Sayangnya, meskipun judul bukunya “Pocket Reference” ternyata ukurannya bukan pocket (ukurannya ½ halaman A4) dan tebalnya 509 halaman (kira2 pocket-nya harus sebesar apa ya….) jadi lumayan berat juga untuk dibawa-bawa. Kekurangan lainnya, mungkin bahasa yang digunakan kurang begitu ‘gaul’ untuk dibaca oleh teman-teman yang non farmasis, jadi mungkin tidak menarik untuk dibaca jika bukan farmasis. Sebenarnya buku seperti ini harus dibuat lebih gaul agar masyarakat umum tahu lebih banyak tentang terapi obat dan agar pasien lebih tahu tentang terapi yang didapatkannya. Untuk mewujudkan hal ini, ada yang mau membantu saya…………………???