Showing posts with label Life Style. Show all posts
Showing posts with label Life Style. Show all posts

Thursday, January 30, 2014

Tulisan-Tulisan Thesis

Bicara tentang PhD, pasti ujung-ujungnya bicara tentang thesis. Sepertinya memang bagian ini yang paling berat dalam rangkaian program Ph.D. Tepatnya mungkin bukan "sepertinya" tapi memang benar-benar berat. Pertama, berat dari segi kontent atau isi dimana hasil riset selama 3 tahun harus bisa ditulis secara runtut, jelas dan menampilkan suatu hal yang "novel" bagi bidang ilimu kita. Yang kedua, berat dari segi diri sendiri, yaitu berjuang untuk melawan kemalasan dalam menulis. Alasan terakhir ini yang bagi saya paling berat dibandingkan yang pertama. Kenapa berat, karena jujur saja, rata-rata PhD student cenderung untuk "procrastinate" dalam menyelesaikan thesis. 

Tetapi sesuai dengan hukum pertama dari Newton's Three Law of Graduation versi PhD Comics, ada "external force" yang harus dikenakan pada seorang student agar tidak procrastinate terus menerus. Bagi saya, external force itu adalah berakhirnya beasiswa dari sponsor. Sponsor saya hanya memberikan perpanjangan beasiswa maksimal 6 bulan sejak berakhirnya tahun ketiga dari PhD program. Dengan kata lain, jika dalam waktu 6 bulan sejak perpanjangan saya belum menyelesaikan thesis, resiko ditanggung sendiri, alias siap-siap pakai uang pribadi. Mengingat biaya hidup di UK yang lumayan tinggi dan tidak akan bisa tercukupi dengan mengandalkan gaji pokok dosen di Indonesia, sepertinya ini yang menjadi "external force" bagi saya untuk segera menyelesaikan tesis.

Tiga bulan sebelum masa 3 tahun PhD berakhir, saya sudah ancang-ancang untuk mempersiapkan mental memasuki masa writing-up. Salah satunya dengan mengikuti kursus "Finishing Your Thesis" yang diadakan oleh Graduate School di universitas tempat saya belajar. Sebenarnya bukan kursus sih, lebih tepatnya sharing pengalaman dengan sesama final year PhD student dan alumni yang baru saja menyelesaikan PhD nya. Salah satu yang saya dapatkan dalam kursus ini adalah mulai menentukan timeline dari sisa waktu yang tersedia. Timeline ini tentulah customize, menurut kepentingan masing-masing. Saya sendiri menetapkan batas akhir saya berada di UK adalah bulan Maret 2013, mengingat pada bulan itu juga beasiswa saya akan berakhir. Dari sini, mulai dibuat sub-sub rencana yang akan kita kerjakan, mulai dari kapan mulai menulis, target berapa bab yang harus tertulis selama 1 bulan, termasuk menentukan kapan harus submit dan menempuh ujian. 

Di University of Nottingham, tempat saya belajar, ada beberapa persyaratan administrasi yang harus dipenuhi saat mulai memasuki tahap writing-up thesis. Salah satunya adalah "Notification to Submit Thesis", semacam form yang harus diisi dan ditandatangi oleh supervisor dan di submit ke akademik. Form ini harus disubmit ke bagian akademik sekurang-kurangnya 2 bulan sebelum thesis di submit, karena ini akan berkaitan dengan penentuan penguji, pengiriman thesis dan administrasi lainnya. Selain itu, fasilitator kursus juga mengingatkan bahwa ada kemungkinan jeda waktu yang cukup lama, maksimal 3 bulan, sejak submit thesis hingga dilakukannya ujian thesis atau viva voce examination. Oleh karena itu, fasilitator berharap kami "aware" dengan hal tersebut, terutama yang beasiswanya segera berakhir, seperti saya.

Okay deh, timeline mulai disusun. Januari 2013 adalah target submission thesis untuk saya, sehingga selambat-lambatnya akhir November 2012 saya sudah harus mensubmit form "Notification to Submit Thesis". Supervisor pun setuju dengan rencana saya, dan hanya menandai di kalendernya sambil mengatakan bahwa deadline ini saya yang buat, bukan dia, jadi saya yang harus konsekuen dengan deadline ini. Dia pun menjanjikan bahwa dalam 1 bulan setelah submit, saya akan viva, sehingga saya masih punya waktu untuk koreksi thesis sebelum besiswa saya berakhir di bulan Maret 2013.  Siap pak..!

Tapi sekali lagi, kendali menulis tesis itu memang ada pada diri kita sendiri. Berat sekali memang, belum lagi pas kena serangan procrastination. Supervisor juga menyarankan saya untuk membuat target pribadi, berapa kata yang harus ditulis dalam 1 hari. Untuk awalan, dia menyarankan 500 kata per hari sudah cukup. Mungkin dia paham kesulitan non-native seperti saya untuk menulis dalam bahasa Inggris.

Untungnya, procrastination saya membawa sedikit keberkahan. Saat buka-buka youtube, eh ketemu video Three-Month Thesis  dari James Hayton. Menonton ini, kok saya jadi senyum-senyum sendiri ya, karena ternyata yang saya alami juga dialami hampir seluruh final year students. Persis banget. Bangun pagi, siap menulis, cek e-mail dulu, cek fesbuk, cari videoklip lagu terbaru di youtube, buka situs berita, dan siklus ini berulang lagi, sampai akhirnya sore hari. Akhirnya, 1 hari terlewati tanpa menghasilkan sesuatu. Eh, bagi saya kadang menghasilkan juga ding, menghasilkan lumpia, siomay atau bakso ayam yang siap di simpan di freezer :).

Akibat menemukan video Three-month thesis di Youtube, menghantarkan saya ke Blog James Hayton. Banyak sekali ketemu tips-tips dari Mas James untuk cara cepat menulis tesis. Salah satunya adalah menghindari procrastination. Bagaimana caranya? Di blog itu dijelaskan beberapa tipsnya.

Salah satunya yang saya aplikasikan adalah dengan membagi waktu berdasarkan satuan unit. Tentunya bisa disesuaikan dengan keadaan kita masing-masing. Saya sendiri mencoba mengambil satu unit setara dengan 30 menit. Dalam 30 menit tersebut, 20 menit saya fokuskan untuk menulis tesis, sebisanya atau sedapatnya, tanpa membuka facebook, e-mail, atau mengerjakan yang lain. Nah, 10 menit sisanya saya pakai untuk acara bebas, bisa untuk bikin kopi, cek facebook atau yang lain. Oh ya, satu lagi yang saya terapkan dari tipsnya Mas James adalah tidak men-cek e-mail terus menerus. Cek e-mail bisa dikerjakan tiap 2 jam sekali. Pertama sih saya pakai periode 2 jam sekali, sebagai pelampiasan malas berpikir untuk menulis. Tapi, lama-kelamaan saya bisa mematuhi jadwal mengecek e-mail yang saya buat sendiri yaitu pada waktu makan siang dan jam 5 sore. Untuk tips lengkapnya, bisa dilihat pada blognya James saja ya.

Untungnya, tips ini bekerja untuk saya. Pada akhirnya saya bisa tahan menulis 2 jam nonstop, tanpa procrastinate. Tapi mungkin ini juga ada pengaruh "external force" ya , karena waktu berjalan semakin mendekati deadline yang saya buat sendiri. Saran dari James, yang menurut saya lumayan ekstrim adalah memutus koneksi internet alias sama sekali tanpa koneksi internet, untuk menjaga fokus pada menulis. Bagi saya, tips membagi 20+10 menit tiap satuan unit, sudah cukup pas bagi saya. James sendiri di blognya menyarankan "25+5" menit sebagai 1 satuan unit waktu menulis. Jadi selama menulis, koneksi internet dan online facebook tetap berlaku bagi saya dengan memperhatikan "syarat dan ketentuan" yang saya buat sendiri. 

Begitu menemukan kondisi yang tepat dalam menulis, dalam 1 hari dihitung-hitung saya bisa menghasilkan lebih dari 500 kata. Dari pengalaman, 1 chapter bisa saya selesaikan dalam 2 minggu. Mungkin termasuk lambat, tapi not bad lah. Teman saya, British asli, bahkan bisa menyelesaikan a whole thesis dalam 1 bulan. Hehehe...beda standar ya....:)

Tahun  baru saya habiskan dengan menulis dan menulis, sampai tidak bisa tidur. Benar sekali, tidak bisa tidur, bukan mengantuk. Saya bisa menulis nonstop tanpa tidur dan tanpa bantuan kopi. Tapi saya sadar ini tidak baik untuk kesehatan fisik dan mental, sehingga malam hari saya berusaha mematuhi jadwal untuk tidur meskipun juga tidak bisa tidur pulas. Akhirnya, awal tahun baru, whole thesis, 60,000 kata siap disetor ke supervisor untuk dikoreksi. Sudah pernah saya ceritakan juga tentang hal ini disini.

Jadi, meskipun "just thesis" (ini kata supervisor saya), ternyata perlu perjuangan juga. Dan yang paling berat adalah perjuangan "menata diri sendiri" untuk siap dan mau menulis thesis dan yang jelas, menulis thesis itu "painful". Kenapa harus berlama-lama merasakan "painful", jadi pakai saja target James dengan Three-month thesisnya.


Satu hal yang paling penting adalah kesadaran diri untuk menyelesaikan thesis. Semua tips cara cepat menulis thesis tidak akan berguna tanpa keinginan dan konsistensi dari diri sendiri untuk segera menyelesaikan thesis. Yang jelas, jika thesis sudah selesai, tidur akan lebih nyenyak...:)


Selamat tahun baru Imlek

Sunday, December 15, 2013

Kilas Jalan Menuju PhD

Woww...time flies fast, tanpa terasa sudah 1.5 tahun blog ini sudah tidak pernah di-up-dating. Padahal, dulu saya bertekad minimal 1 bulan sekali mampu membuat catatan-catatan kecil, tentang semua hal, baik yang bermutu dan tidak bermutu. Tapi apa daya, tangan tak sampai untuk membuat tulisan kecil, yang tidak mutu sekalipun.

Catatan terakhir ternyata saya buat ketika hari ulang tahun saya di tahun 2102. Setelah itu, sepertinya menulis thesis lebih menjadi prioritas. Sering merasa bersalah jika menulis sesuatu yang tidak bermutu, sedangkan tulisan thesis masih "kleleran". Dulu...dulu...nih, saat genting-gentingnya menulis thesis, saya sempat berjanji akan kembali lagi ke blog ini kalo sudah submit. Nyatanya, akhir Januari 2013 thesis disubmit, tapi blog tidak di up-date juga. Jadi, saya berbohong kepada diri sendiri :P.

Saat ini, saya merasa sudah bisa deal dengan kerjaan baru yang sebenarnya tidak baru ini, setelah hampir 3.5 tahun cuti untuk jadi student di UK. Jadi, sejak Mei 2013 resmi berstatus bukan student, baru malam ini saya merasa legaaa banget, dan bisa up-date blog ini.

Kali ini, pengin sekali cerita kilas balik stage waktu jadi PhD student. Mumpung lagi in the mood untuk menulis tentang pengalaman jadi PhD student dan juga ingin berbagi cerita bahwa sekolah di luar negeri itu tidak selamanya enak, tapi juga tidak selamanya tidak-enak. Bisa dikatakan naik-turunlah, kadang senang, galau, sedih dan kangeennn rumah. Apa saja sih yag dialami oleh PhD student? Dimana senangnya, dimana susahnya, dimana galau-nya? 

1. Tahun Pertama

Tahun pertama sebagai student, bisa saya bagi menjadi 3 bagian. Tiga bulan pertama, sebagai seorang yang baru pertama kali merasakan sekolah di luar Indonesia, jelaslah senang. Bangga juga ding...karena bisa menyabet slot beasiswa yang belum tentu semua orang bisa mendapatkannya. Sebagai orang "ndeso" tentulah saya kagum sekali dengan semua keteraturan dan fasilitas yang baik di UK, yang tentunya jauuhhh sekali jika dibandingkan dengan di Indonesia. Dunia kampus pun menjanjikan fasilitas belajar yang baik, akses perpustakaan 24 jam, short-courses yang menarik dan lainnya.

Puluhan foto pun ter-upload lewat media facebook, menggambarkan rasa exciting terhadap dunia baru ini. Indah....dan yang jelas berbeda dari negara sendiri. Selain itu, hobi jalan-jalan saya juga terfasilitasi dengan bergabung dalam Postgraduate Students Association (PGSA) yang secara rutin menawarkan trip keliling UK, minimal 1 bulan sekali. Untuk urusan belanja, ukuran pakaian big-size selalu tersedia untuk saya, apapun modelnya, dan ini sulit saya dapatkan di Indonesia. 

Diatas adalah bagian yang menyenangkan. Adakah bagian yang tidak menyenangkan? Mencoba memahami riset/ project yang diberikan bukan hal yang mudah bagi saya. Apalagi itu menyangkut hal yang saya hindari di masa lalu, yaitu chemical synthesis. Rasa galau juga mulai menjangkiti, karena iklim bekerja yang berbeda dengan sebelumnya. Budaya jelas berbeda, yang pada beberapa titik belum saya terima sepenuhnya. Sehingga kadang ada perasaan merasa sendiri. Apalagi saat itu sudah mulai mendekati musim dingin, yang gloomy, dan sering membawa mood menuju kemurungan dan sedih.

Tiga bulan kedua, foto dan update status di facebook tentang indahnya negara baru ini mulai berkurang. Berkurang karena memang tidak ada waktu. Pekerjaan di lab mulai mengalir, membuat report (yang harus dikerjakan setiap menyelesaikan satu reaksi), membuat literature review, dan harus memahami mekanisme reaksi yang dulunya sangat asing bagi saya. Benar-benar menempatkan saya under pressure saat itu. Sehingga, hari Jum'at merupakan hari yang paling saya tunggu saat itu, karena keesokan harinya weekend dan saya bisa istirahat dan membuka facebook dan update status juga foto :D. Sabtu menjadi hari belanja dan santai bagi saya, dan Minggu saya memilih untuk tidak keluar rumah jika tidak terpaksa, untuk menyiapkan fisik dan mental di hari Senin...cieeee......

Untungnya, 3 bulan kedua ini meskipun saya bekerja di chemistry yang pressure nya cukup tinggi, ada hal yang membuat saya kuat menghadapi tekanan ini. Lab-mates yang menyenangkan, yang selalu siap membantu, termasuk menerjemahkan interpretasi spectrum H-NMR yang bagi saya terlihat serupa jarum yang ruwet :D. Meskipun kami semua berada dibawah tekanan reaksi kimia, tapi saat lunch menjadi saat yang menyenangkan untuk tertawa bersama. Topik yang ditertawakan? Banyak hal, mulai dari menghitung berapa kali supervisor mencuci tangan di lab dalam sehari sebagai alasan untuk mengawasi student-nya hingga menertawakan riset kami yang kadang sulit sekali untuk dibayangkan kapan selesainya. Ternyata bukan hanya saya yang merasakan ruwetnya riset, yang lain juga merasakan hal yang sama. Jadi tertawa bersamalah kita, menertawakan diri kita masing-masing kenapa mau menjadi PhD Student. Satu lagi kebaikan mereka, meskipun teman dan post doc di chemistry lab ini laki-laki semua, tapi mereka tidak pernah melupakan untuk mengajak saya keluar sekedar makan bersama jika ada yang ultah atau Sunday lunch. 

Oh iya, 3 bulan kedua ini saya juga mulai mengenal PhD comics (http://www.phdcomics.com/comics), yang banyak sesuainya dengan kehidupan sebagai student, yang kadang pahit tapi lucu untuk ditertawakan.

Tiga bulan ketiga, lab work saya berpindah ke Drug Delivery lab. Di tempat ini, teman baru juga saya dapatkan, mulai dari kakak kelas yang suka curhat hingga kakak kelas yang suka tebar pesona:P. Secara kehidupan akademik, saya sudah mulai nyaman dengan riset yang saya kerjakan, tidak merasa dibawah tekanan lagi. Mungkin karena saya sudah semakin paham apa yang harus dikerjakan. Menulis report-pun semakin lancar untuk dibuat, karena saya sudah tahu bentuk report seperti apa yang diinginkan oleh ketiga supervisor saya. Kehidupan non-akademik juga semakin nyaman, karena semakin banyak teman hang-out dan teman tempat bercerita. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman baru dari beragam negara, yang sama sponsor beasiswanya,  dan kami sepakat untuk mendirikan asosiasi dengan pertemuan terjadwal setiap dua bulan sekali.

Tapi, tetap ada satu hal yang membuat saya cemas yaitu first-year report. Setelah 9 bulan, saya harus men-submit report ke school dan nantinya akan direview oleh internal assessor. Selain itu, saya juga harus melewati first-year viva, yang akan menentukan apakah saya layak untuk menjadi candidate PhD dan berhak melanjutkan riset tahun kedua. Alhamdulillah, dukungan supervisor saat itu sangat membantu. Mereka mengingatkan saya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan sepanjang saya tahu apa yang sudah dan yang akan saya kerjakan. Mereka juga memilihkan untuk saya internal assessor yang baik, tetapi capable secara akademik untuk mereview hasil kerja saya selama 9 bulan.

Diakhir bulan ke 10 sejak menjadi student, saya dinyatakan berhak menjadi PhD candidate dan melanjutkan riset tahun kedua. Well, meskipun untuk mencapai itu juga tidak mudah. Satu jam diskusi terhabiskan antara saya dengan internal assessor, untuk mendiskusikan mekanisme sintesis yang saya kerjakan, termasuk analisisnya. Sssttt...selesai ujian tersebut, saya baru menyadari bahwa internal assessor saya sebenarnya baik, dan ini tidak pernah saya terbayangkan sebelumnya. Saya bahkan pernah meminta ganti internal assessor kepada supervisor hanya karena masalah sepele, yaitu internal assesor saya tidak pernah tersenyum atau menyapa jika berpapasan dengan orang lain. Hal yang sangat jarang terjadi di British, dimana setiap orang yang berpapasan selalu saling menyapa, say Hi..., Hiya...atau apalah, yang penting menyapa. Tapi, supervisor saya meyakinkan bahwa memang tidak ada akademisi yang sempurna, yang bisa menjadi reviewer riset saya. Jadi, untuk saat ini, dialah yang terbaik. Selesai ujian, baru saya menyadari bahwa memang internal assessor saya baik, cerdas dan memberikan masukan yang cukup banyak. Dan juga, saya baru menyadari bahwa dia ternyata bisa tersenyum ramah, dan cakep ...^-^.

2. Tahun Kedua

Akhir tahun pertama saya habiskan untuk pulang liburan ke Indonesia. Kebetulan saat itu bertepatan dengan puasa dan lebaran. Ijin dengan supervisor pun mudah didapat, karena dia juga mau liburan :D.


Awal Oktober 2010 saya kembali ke UK. Saat kembali ini, ada perasaan berat untuk meninggalkan Indonesia, karena saya masih ingin liburan...!!! Tapi disatu sisi saya juga merasa cemas, karena liburan yang terlalu lama akan menyita waktu untuk melakukan penelitian. Terus terang, ketika pulang dari liburan ini, saya bingung harus memulai dari mana untuk riset tahun kedua ini. Alhasil, 1 minggu pertama terbuang percuma hanya karena galau mau dibawa kemana riset ini. Untunglah, memang iklim akademik itu sudah dirancang sedemikian rupa sehingga bisa dijalani dengan mudah. Jika ada student galau tentang riset, supervisor siap membimbing supaya riset tetap terarah pada tujuan :D.


Riset tahun kedua semakin mudah untuk dibayangkan tetapi susah untuk dijalani. Semakin mudah, karena saya sudah tahu apa saja yang harus saya kerjakan untuk mencapai tujuan penelitian. Susah untuk dijalani, karena kadang hasil percobaan tidak sesuai yang diharapkan, sehingga perlu adjusment kondisi disana sini, supaya didapatkan hasil seperti yang diharapkan. 

Ditahun kedua ini, rasanya sudah semakin jarang galau, karena memang tidak ada waktu untuk menjadi galau...!!! Sebagai second-year student, tanggung jawab di lab pun semakin besar. Mulai dari harus men-training cara kerja penelitian ke 1st-year students hingga membimbing tugas akhir mahasiswa undergraduate. Belum lagi harus mengerjakan lab-work milik sendiri. Waktu pun semakin cepat berlari karena dikejar. Belum lagi e-mail bertubi-tubi dari supervisor, untuk memberikan instruksi membimbing project kepada students, termasuk e-mail di saat weekend (hal yang sangat jarang dilakukan oleh supervisor, jika tidak terpaksa). Giliran untuk memberi presentasi di group pun juga tiba. Prioritas memang diberikan kepada 2nd-year student untuk menampilkan progress riset yang dilakukan. Malangnya, karena supervisor saya berasal dari bagian yang berbeda di school of pharmacy, jadi saya harus mempresentasikan riset di bagian drug delivery & tissue engineering dan bagian medicinal chemistry.

Langkah saya akhirnya menginjak sembilan bulan tahun kedua. Rasa cemas mulai menghampiri karena saya merasa belum menghasilkan sesuatu yang bermakna dalam riset ini. Kekhawatiran juga menghinggapi apakah nanti masih berhak melanjutkan tahun ketiga? Untungnya, tampil presentasi bertubi-tubi di group yang berbeda berhasil mendongkrak rasa percaya diri bahwa riset yang saya lakukan layak disebut sebagai PhD research (hal yang sebelumnya saya ragukan :)).

Second-year viva bersama internal assessor yang sama dengan tahun pertama saya lewati dalam waktu 45 menit, eh, mungkin kurang, karena potong masa membuat kopi oleh internal assessor saya-kira-kira 10 menit dan 5 menit distraction dari seorang student yang tiba-tiba masuk ruangan asessor ketika saya sedang viva. Ada yang berbeda dari hasil assessment 2nd year viva dibandingkan 1st year viva. Tahun pertama, assessor saya menuliskan komentar terhadap hasil viva terlebih dahulu, lalu baru saya memberi tanggapan apakah saya setuju dengan tanggapan komentar tersebut. Tahun kedua, justru assessor meminta saya memberi komentar tentang pelaksanaan 2nd year viva, baru kemudian dia memberi komentar balik terhadap progress riset tahun kedua saya.

Sama dengan tahun pertama, saya menutup tahun kedua dengan ambil cuti pulang liburan ke Indonesia dengan membawa kelegaan bahwa masih berhak melanjutkan tahun ketiga.


3. Tahun Ketiga



Tahun ketiga saya awali dengan mengikuti kompetisi Biotechnology YES, semacam kompetisi khusus untuk PhD students atau post doc untuk menciptakan business plan untuk memasarkan produk bioteknologi yang kami rancang. Lumayan seru juga, dan bisa membangunkan kembali semangat setelah libur panjang.



Tahun ketiga ini, saya semakin paham apa yang harus dilakukan pada riset saya hingga tahun ketiga berakhir. Tapi ya begitu, semua hanya mudah untuk ditulis diatas kertas, tapi sukar untuk dikerjakan. Herannya, saya merasa lebih santai ditahun ketiga ini. Entah itu karena memang sudah lebih paham, atau memang saya sudah pasrah: apa yang akan terjadi terjadilah.



Termasuk ketika saya harus re-formulasi ulang untuk mikropartikel yang saya buat, sedangkan size, kompatibilitas dengan stem sel semua sudah oke. Ada burst release hingga hampir 50% diawal tahap pelepasan obat pada mikropartikel yang saya buat. Dikhawatirkan, burst release ini akan menyebabkan ketoksikan pada stem cell, karena hampir semua obat lepas pada tahap awal. Akhirnya, saya berkejaran dengan waktu, tiap hari, siang, malam, weekend, untuk merubah formulasi agar didapatkan release profile sesuai yang dikehendaki. Melelahkan memang, tapi saya merasa tidak begitu cemas, atau mungkin lebih tepatnya pasrah: apa yang akan terjadi terjadilah.



Empat bulan dari mulai tahun ketiga, thesis-plan sudah saya buat dan didiskusikan dengan supervisor. Supervisor-pun kelihatannya juga lebih santai (atau pasrah?), karena menurut dia thesis plan bisa saja berubah saat menulis thesis yang sebenarnya. Thesis plan juga saya submit ke internal assessor saya dan tidak ada komplain dari beliau mengenai thesis plan yang saya ajukan, atau beliau juga pasrah melihat hasil riset saya yang bagi dia tidak begitu sophisticated? Internal assessor saya adalah tetap orang yang sama sejak tahun pertama hingga final viva nanti. 



Di tahun ketiga ini juga frekuensi saya berpergian juga semakin meningkat. Mulai dari konferensi ke luar UK, hingga harus bolak-balik Nottingham-London untuk mengurus visa, visa untuk konferensi dan visa UK. Yap, diakhir tahun ketiga, ijin tinggal saya habis, sedangkan thesis belum selesai. Mau tak mau, suka tidak suka, saya akhirnya memperpanjang ijin tinggal di UK. Pengurusan visa UK ini justru membuat saya lebih tertekan dibandingkan mengerjakan lab work saya yang harus berakhir per-September 2012. Untungnya, dukungan surat rekomendasi dari sponsor dan supervisor, juga International Office tempat saya belajar bisa mengurangi tekanan yang saya rasakan saat pengurusan perpanjangan visa tersebut. Keputusan perpanjangan ijin tinggal saya peroleh Agustus 2012, dan saya berhak untuk tinggal di UK hingga 21 bulan kedepan, atau hingga studi saya selesai.



Pekerjaan di lab juga sudah terjadwal selesai awal September. Agustus 2012 saya mulai masuk tahap finishing lab work. Hanya tinggal melakukan immunostaining pada sampel yang saya dapatkan setelah menunggu sel tumbuh selama 28 hari....!!!. Pekerjaannya relatif mudah, hanya memakan banyak waktu. Ada satu hal yang sebenarnya kami, saya dan supervisor, rencanakan untuk dikerjakan. Tapi karena waktu tidak mencukupi, supervisor saya menganjurkan cukup sampai di tahap akhir itu. Ketika saya menanyakan, apakah tidak masalah saat ujian akhir/viva, supervisor saya bilang: "Research is never finish, so don't worry about your thesis". Okay deh Bapak........

Akhir September 2012, officially saya meninggalkan lab work dan masuk tahap thesis writing-up.


4. Tahap Penyelesaian



Untuk menulis thesis, sebenarnya saya sudah men-cicil untuk membuat background dan methodology sejak July 2012. Tapi ya itu, karena masih ada lab work yang harus saya kerjakan, hanya sedikit yang bisa saya dapatkan. Kadang dalam 1 hari saya hanya bisa menulis 1 paragraph. Parah ya.....

Terus terang kendala utama saya dalam menulis thesis adalah kendala bahasa, dan ini membuat waktu yang saya perlukan untuk menulis tidak bisa dibandingkan dengan lab-mates saya yang sebagian besar native-english. Tapi, sepertinya supervisor paham kok dengan kendala tersebut, jadi dia lebih sabar mengkoreksi tulisan saya.


Efektif menulis saya lakukan mulai Oktober 2012. Sebagai tempat menulis, saya memutuskan untuk dilakukandi rumah. Excited sekali rasanya, tidak harus bangun pagi dan berangkat ke kampus setiap hari. Ke kampus saya lakukan jika ada e-mail dari supervisor yang meminta saya datang dan mendiskusikan tulisan saya. Itupun biasanya mereka meminta diatas jam 4 sore. Yihaaa...senangnya, jadi saya bisa menulis, sambil ngemil, minum kopi dan membuat cemilan kapan saja saya mau.



Tapi eitsss...tunggu dulu, satu bulan menulis di rumah, saya kok merasa tidak ada progress pada penulisan thesis saya. Siang hari lebih sering saya habiskan untuk menge-cek e-mail masuk, menge-cek facebook, membuka situs berita, menyetel youtube, dan siklus ini akan terus berulang hingga sore hari. Menulis yang benar-benar menulis baru bisa saya lakukan malam hari. Inipun sering terkendala mengantuk dan akhirnya saya tinggal tidur. 



Akhir Oktober, saya melakukan evaluasi hasil kerja saya dan saya putuskan bahwa menulis di rumah adalah tidak efektif. Terlalu banyak distraction dan procrastination yang saya lakukan. Akhirnya, saya memaksa diri untuk kembali bangun pagi, berangkat ke kampus dan menulis hingga bosan. Langkah ini terlihat efektif karena saya cenderung bekerja hingga jam 8 malam tiap hari, pulang, dan lalu tinggal tidur. Cemilan, makanan? Saya membawanya, tapi juga saya batasi, supaya waktu tidak habis hanya untuk makan.



Kelihatannya cara ini memang match dengan gaya saya. Terbukti, awal tahun baru, first draft thesis, dari chapter 1-7 sudah siap dikirim ke supervisor. Supervisor pun ternyata ikut mendukung kecepatan (atau kelambatan?) saya dalam menulis. Dalam 3 hari, first draft tersebut selesai dikoreksi, berikut comments dan suggestions untuk tulisan saya. Tepat di akhir Januari, thesis akhirnya siap disubmit ke bagian akademik.



Selang 1 hari, e-mail dari supervisor masuk ke inbox menanyakan kesediaan saya untuk viva voce examination atau ujian akhir 2 bulan lagi. Agak lama memang, tapi eksternal assessor yang ditunjuk memang baru bisa datang untuk menguji saya 2 bulan lagi. Jadwal ujian mundur 1 bulan dari yang dijanjikan oleh supervisor. Dua bulan menunggu viva, saya gunakan untuk sedikit bersantai dengan mengunjungi teman-teman di seputar UK dan 3 minggu sebelum jadwal viva, saya mulai konsentrasi untuk mempersiapkan viva.



Bisa dikatakan tahap penyelesaian ini merupakan tahap yang paing berat dari PhD. Dulu...dulu ya...saya kira tahun pertama PhD adalah yang paling berat. Tapi ternyata, setelah mengalami semuanya, tahap menulis ini yang paling berat. Kenapa? karena harus berperang untuk melawan kemalasan diri sendiri. Di tahun pertama mana bisa malas, karena kalo tidak kelihatan 1 hari tanpa pamit, akan ada e-mail dari supervisor masuk ke inbox, entah sekedar menanyakan kabar atau perintah untuk melakukan ini-itu. Mana sempat untuk bermalas-malas  'kan? Pada tahap writing-up, kontrol dari supervisor hanya datang 1 bulan sekali, beda sekali 'kan kondisinya, sehingga kontrol pada tahap akhir PhD sepenuhnya ada di tangan saya.



Satu lagi yang agak berat pada tahap penyelesaian yaitu gampang menjadi galau. Entah karena tekanan menulis yang memang sulit atau kebetulan masa writing-up saya berada saat UK mulai memasuki winter atau musim dingin. Saya jadi lebih malas, bangun siang,dan sering tidak mood untuk menulis. Mungkin ini ya yang disebut winter gloom, yang katanya memang mempengaruhi mood. Tapi herannya, tahun sebelumnya kok saya tidak terjangkiti "virus" ini ya?


Semakin mendekati viva, galau di hati semakin menjadi-jadi. Belum lagi mendengar cerita teman-teman sesama PhD students yang (katanya) tidak sukses saat final viva. Aduh...rasanya saya pengin pulang saja ke Indonesia tanpa viva. Untungnya, dukungan orangtua di Indonesia dan teman-teman sekeliling saya begitu banyak, untuk tetap menguatkan kaki saya melangkah maju ke viva.

Tanggal 21 Maret 2013, adalah hari bersejarah untuk tahap PhD saya. Pada hari itu saya berjumpa dengan eksternal assessor yang baru saya kenal didampingi dengan internal assessor yang sudah saya kenal sejak ujian tahun pertama. Supervisor kedua saya melepas saya ke dalam ruang viva sambil meyakinkan, bahwa dalam 2 jam kedepan saya akan berhak menyandang gelar Doktor. Supervisor pertama saya mengirimkan surat permintaan maaf tidak bisa mengantar saya ke ruang viva di pagi hari, karena ada meeting di kota lain, tapi dia berjanji akan menyambut saya setelah selesai viva siang itu.

Dua jam di dalam ruangan, berdiskusi tentang thesis yang saya tulis, tidak begitu terasa. Apalagi, internal assessor saya berbaik hati untuk mebuatkan kopi atau mengambilkan air minum. Sesekali dia melempar joke, untuk membuat saya lebih relax, tapi kali ini joke dari dia tidak banyak membantu. Bantuan dari internal assessor justru saya rasakan ketika saya tidak bisa memahami apa yang ditanyakan oleh penguji. Internal assessor akan menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana sehingga saya bisa paham dan menjawab pertanyaan tersebut. Setelah 2 jam, saya akhirnya dikeluarkan dari ruangan. supervisor sudah menyambut saya di depan pintu. Kurang lebih 5 menit, tapi terasa 1 jam bagi saya, saya diminta masuk kembali dan dinyatakan lulus. Saat itu, badan rasanya ringan sekali, dan hanya satu yang ingin saya lakukan saat itu, yaitu pulang ke rumah dan tidur...:D. 

Sebenarnya tahap PhD ini belum sepenuhnya selesai, karena masih ada minor correction yang harus saya kerjakan. Satu hal yang membuat saya lega, internal assessor saya berjanji untuk cepat melakukan koreksi, jika saya pun cepat memasukkan hasil koreksi. Dalam waktu 2 minggu dari tanggal viva, internal assessor saya setuju dengan revisi yang saya buat dan surat tanda lulus dari PhD program akhirnya keluar dari bagian akademik. Ini juga mebuat langkah saya untuk pulang ke Indonesia semakin ringan. Satu bulan saya pergunakan untuk persiapan pulang ke tanah air, dan akhirnya tepat 1 Mei 2013, dinihari, kaki saya sudah menginjak tanah Indonesia kembali.


Ada beberapa hal yang ingin saya pesankan pada teman-teman, yang saat ini baru memulai langkah atau berencana mengambil PhD program. Bahwa kehidupan PhD itu banyak sekali warnanya, mulai dari warna bahagia, sedih, galau, takut, underpressure dan sebagainya. Warna tersebut akan berganti terus selama masa studi tanpa bisa kita duga, tinggal bagaimana kesiapan kita untuk menghadapi perubahan tersebut. Terkait dengan kehidupan akademik dan non-akademik yang nantinya akan mendukung akademik (halah...bingung ya :-o), point berikut mungkin perlu disadari oleh teman-teman:

1. Riset PhD adalah sepenuhnya riset kita, sehingga kita harus memahami betul tentang apa yang akan dikerjakan, dan bagaimana mencari solusi atas permasalahan tersebut. Jangan terlalu bergantung dengan supervisor. Ingat, teman-teman adalah PhD candidate, yang nantinya dapat mempertanggungjawabkan segala hal terkait riset, yang sudah dilakukan. Peran supervisor adalah membimbing dan mengarahkan agar riset tetap berada di jalur yang benar, berdasarkan pengalaman mereka. Jadi, kadang memang keputusan ada di tangan kita, untuk memilih jalur mana yang harus diambil untuk menyelesaikan riset.

2. Selalu konsisten dalam mengerjakan sesuatu. Apapun yang terjadi, komitmen untuk menyelesaikan riset di lab dan penulisan tesis tetap harus dijaga. Naik-turun mood itu biasa, tergantung bagaimana kita mengatasinya agar mood tetap terjaga baik. Menjaga jadwal untuk bangun, bersiap, berangkat ke kampus dan pulang dari kampus pada waktu yang sama sedikitnya bisa menjaga mood untuk tetap baik dan bersemangat mengerjakan riset.

3. Mulailah menetapkan cara bekerja yang paling nyaman dan jangan ragu untuk berubah kearah yang lebih baik. Setiap orang mempunyai style tersendiri dalam mengerjakan pekerjaannya. Ada yang lebih senang bekerja di pagi hari, ada yang lebih senang siang, bahkan malam hari. Pun ada yang suka ketenangan dalam mengerjakan, ada yang suka mendengarkan musik atau bahkan sambil makan makanan kecil. Tapi, jangan terjebak pada style yang sama jika style tersebut tidak efektif diterapkan untuk PhD students. Jadi, jangan segan-segan melakukan self-evaluation terhadap style kerja dan hasil yang sudah dicapai atau didapatkan.

4. Cari teman sebanyak mungkin, baik yang senasib maupun yang tidak :). Kita akan menyadari bahwa yang menghadapi kesulitan itu bukan hanya kita, tapi semua orang pasti punya problem, sekecil apapun itu. Membuka diri terhadap orang disekitar kita, khususnya di sekolah atau lab yang sama, sedikitnya bisa membantu. Kadang mereka bisa memberikan saran-saran berguna, berdasarkan pengalaman mereka, yang kadang tidak didapatkan dari supervisor. Teman ini jugalah yang natinya akan menampung cerita-cerita galau kita. Meskipun kadang mereka tidak memberikan saran apapun, setidaknya beban masalah sudah berkurang dengan jalan diceritakan pada orang lain. Jadi mulailah untuk menyapa orang disekitar kita ya, baik di kampus maupun di luar kampus.

5. Beri hadiah pada diri sendiri. Jadi PhD student tidak berarti kiamat terhadap jalan-jalan dan hang-out. Ada kalanya kita perlu bersenang-senang, pergi ke bioskop, makan-makan dan hang-out dengan teman sekolah, teman non-sekolah maupun belanja barang yang sudah lama diidamkan. Tentunya kalo sudah ada tahap prestasi yang kita lalui, misal, sehabis presentasi, atau sehabis supervisor meeting atau monthly report.Jangan terlalu pelit terhadap diri sendiri, karena hidup itu sebenarnya sudah "keras", jadi jangan menjalaninya lebih "keras" lagi.

Anyway, panjang juga curhat saya kali ini (dan saya merasa ini masih kurang untuk merangkum 3.5 tahun :P). Tapi, kelihatannya cukup untuk kompensasi blog yang tidak up-date selama 1.5 tahun ini.
Lain waktu, saya akan cerita tips cepat untuk menulis thesis ya, mungkin ini akan bermanfaat nantinya bagi teman-teman yang sudah sampai pada tahap penyelesaian.

Selamat hari pertengahan Desember, tetap berkarya dan semangat menyongsong pergantian tahun.


Ciao...:D

Saturday, July 14, 2012

Ulang Tahun dan Procrastination


Sepertinya tidak banyak yang saya kerjakan hari ini. Hanya merawat sel-sel peliharaan, mengganti media, membuat media baru, membuat feeder layer untuk stok minggu depan. Semua pekerjaan itu adalah pekerjaan rutin bagi saya yang bisa saya lakukan secara otomatis, ibaratnya, tanpa perlu berpikir lagi.

Jadi merasa bersalah karena saya merasa tidak banyak yang bisa saya kerjakan. Target "menata puzzle" juga tidak selesai hari ini. Menata puzzle ini pekerjaan baru bagi saya yang lumayan menyita waktu. Memang hari ini saya merasa kurang motivasi untuk mengerjakan "penataan puzzle" ini. Alasan pertama adalah hari ini Jum'at, hari menjelang weekend, aroma weekend sudah mulai terasa. Kedua, hari ini mendung, sehingga bawaannya mengantuk terus. Yang ketiga, hari ini hari lahir saya....Ulang Tahun...yayyyy..!!!

Pagi ini, setelah pesta lumpia dan batagor dengan teman-teman satu kantor, saya langsung masuk lab untuk mengerjakan pekerjaan rutin merawat sel. Jam 10.30, semua sudah selesai, waktunya minum kopi. Waktu mengambil air panas di common room, saya berpapasan dengan salah seorang teman satu group. "Why you are still here?" dia bertanya dengan nada heran. Saya yang ditanya lebih heran lagi, "What's wrong?". "Today is your birthday, go home and enjoy your life," katanya. Hehehe....saya hanya tertawa.

Sempat kepikiran juga mau pulang cepat, tapi, begitu ingat banyak data yang belum diolah, niat itu saya urungkan. Eh, tapi ini 'kan hari ulang tahun, masa' ulang tahun masih mengolah data juga. Akhirnya, niat procrastination*) itu tambah menguat setelah salah seorang Post Doc yang satu ruang dengan saya bilang..."you  're still sitting there. It's your birthday!". Okay deh kakak.....ternyata banyak yang mendukung niat saya untuk procrastinate. 

I am going home.....Relax, today is my birthday...:))

Jadi ingat tulisan yang saya dapat dari postingan milis ke milis sekitar tahun 2004-2006. Siapa penulis aslinya, saya kurang tahu. Yang jelas, alasan dibawah ini mengurangi rasa bersalah saya.


"Jika saya lihat dari hitungan hari (baca: alasan) ini, sebenarnya bukan salah sang mahasiswa bila ia tidak lulus ujian, karena belajar pun ia tidak sempat…
Tahukah anda, setahun itu hanya terdapat 365 hari yang kita tahu sebagai tahun akademik siswa… 
Mari kita hitung!


Hari Minggu
52 hari dalam setahun. Anda pasti tahu bahwa hari minggu itu adalah hari istirahat. Hari tersisa tinggal 313.


Hari Libur (Nasional maupun internasional)
Kurang lebih terdapat 13 hari libur dalam setahun, misalnya tahun baru, natal, dsb… Hari tersisa tinggal 300.


Libur Kuliah
Jelas semua mahasiswa akan libur dan tidak akan kuliah. Biasanya sekitar 2 bulan lebih, anggaplah sekitar 60 hari. Hari tersisa tinggal 240.


Tidur Yang paling baik adalah 8 jam sehari untuk kesehatan, jadi 120 hari terpakai. Hari tersisa tinggal 120.


Beribadah
Paling tidak 1 sampai 2 jam perhari kita beribadah, kita alokasikan 25 hari dalam setahun. Hari tersisa tinggal 95.


Bermain
Hal yang paling baik untuk kesegaran dan kesehatan adalah bermain. Paling tidak memerlukan 1 jam sehari. Terpakai lagi 15 hari. Hari tersisa tinggal 80.


Makan
Sekurang-kurangnya selama satu hari kita habiskan 2 jam untuk makan atau minum, hilang lagi 30 hari. Hari tersisa tinggal 50


Berbicara
Jangan lupakan, bahwa manusia adalah mahluk sosial yang butuh berinteraksi dengan orang lain. Kita ambil 1 jam perhari untuk berbicara. 15 hari terpakai lagi. Hari tersisa tinggal 35.


Sakit
Kitapun bisa sakit, baik ringan maupun berat. Itupun `kalau’ sakit, paling tidak 5 hari dalam setahun sudah cukup mewakili. Hari tersisa tinggal 30.


Ujian
Ujian itu sendiri biasanya dilaksanakan selama 2 minggu per semester. Berarti, 24 hari sudah teralokasi untuk ujian. Hari tersisa tinggal 6.


Refreshing
Untuk menyegarkan pikiran, refreshing itu perlu. Nonton dan jalan-jalan paling tidak menghabiskan waktu 5 hari dalam setahun. Hari tersisa tinggal 1.
Satu hari yang sisa itu khan HARI ULANG TAHUN….!!!
Masa’ harus belajar, sih?"






(Posting dalam rangka procrastination berkedok ulang tahun)

* Procrastination: at procrastinate
   Procrastinate:  to keep delaying something that must be done, often because it is unpleasant or    boring (Cambridge Advanced Learner's Dictionary)

Wednesday, March 07, 2012

Cangkir yang Hilang (Missing Cups)


Ketika membaca artikel tentang "Teaspoon Study" saya benar-benar dibuat kagum dengan ide sang peneliti untuk menelusuri tentang kecepatan hilangnya sendok teh disebuah lembaga penelitian di Australia. Selain menarik, bahasan tentang penelitian ini juga menggelitik. Saking menariknya penelitian ini, saya tertarik untuk membahas penelitian itu di blog ini, silahkan klik disini untuk melihat review artikel ala saya....:-))


Dan ternyata, bukan hanya benda kecil sejenis teaspoon (sendok teh) saja yang mudah menghilang dan sulit ditelusuri keberadaannya. Benda seperti cangkir atau mug pun ternyata mudah menghilang. Ini terjadi di Universitas tempat saya belajar. Padahal, jika dibandingkan secara fisik dengan teaspoon, cangkir ukurannya jauh lebih besar. Dengan ukuran yang lebih besar ini, sepertinya kemungkinan para cangkir untuk terselip atau secara tidak sengaja terbawa pulang, rasanya juga kecil.Tapi tidak demikian kenyataannya.


Minggu lalu, saya menerima e-mail dari pengurus Engineering and Science Graduate Centre (ESGC). Berikut isi e-mail nya:


E-mail dari ESGC tentang hilangnya cangkir-cangkir di Engineering and Science Graduate Centre, dari 100 cangkir yang disediakan, saat ini hanya tinggal 5 cangkir yang tersisa.
(Klik pada gambar untuk memperbesar)






Saat menerima e-mail ini, saya langsung teringat dengan artikel Teaspoon study, dan otomatis tertawa terpingkal-pingkal membaca e-mail ini. Kelihatannya, hilangnya cangkir ini juga bisa jadi topik menarik untuk diteliti. Kemana kira-kira perginya para cangkir ini? Apakah ada Mugnoid Planet yang sekiranya menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi para cangkir? Berapa kecepatan hilangnya cangkir-cangkir ini dalam sebulan? Perlukah satelit pelacak untuk mengetahui keberadaan para cangkir ini?

Untungnya, cangkir saya masih utuh tetap berada diatas meja. Sepertinya tidak ada niatan dari cangkir milik saya untuk hijrah ke Mugnoid Planet. Tapi, siapa yang tahu isi hati sebuah cangkir? Yang saya tahu hanya isi Cangkir, kadang berisi kopi, kadang berisi air putih, kadang juga berisi air putih yang bercampur dengan bekas kopi...hehehe.....









*thinking about spoonoid life and mugnoid life out-there*




Nottingham, March 2012





Monday, February 20, 2012

Peneliti dan Sendok Teh (Researcher and Teaspoon)


Menurut definisi Kamus Bahasa Indonesia (www.KamusBahasaIndonesia.org), "peneliti" adalah sesorang yang melakukan penelitian, sedangkan definisi "sendok teh" adalah sendok kecil yang digunakan untuk mengaduk minuman (kopi, teh dan sebagainya). Lalu apa hubungan antara peneliti dan sendok teh?

Kesulitan menemukan sendok atau alat yang dapat saya gunakan untuk mengaduk kopi saat di kampus, mendorong saya untuk membawa sendiri sendok teh dari rumah. Tentunya sendok tersebut saya simpan di laci meja saya, dibagian atas, bercampur dengan kalkulator, penggaris dan alat tulis yang lain. Kadang sendok teh itu juga saya kantongi di saku jeans saya, jika saya belum punya waktu untuk masuk ke ruang kerja saya. Memang terkesan agak "jorok" atau "disgusting", tapi perlu diketahui, saya selalu membilas sendok teh habis pakai tersebut dengan tap water sebelum masuk ke saku jeans atau laci meja saya. Ini berarti sendoknya dalam keadaan bersih 'kan dan tidak mungkin didatangi semut-semut nakal. Terlebih lagi di Inggris tidak ada semut.

Dan ternyata, masalah peneliti dan sendok teh ini tidak hanya terjadi di tempat saya. Kesimpulan ini terjadi setelah teman satu ruangan saya menempelkan artikel dari jurnal BMJ (British Medical Journal) di papan pengumuman. Papan pengumuman ini memang biasa digunakan untuk menempelkan segala informasi yang berkaitan dengan group research kami, mulai dari jadwal meeting, jurnal terbaru, hingga hari ulang tahun anggota group.Judul artikel tersebut adalah "The case of the disappearing teaspoons: longitudinal cohort study of the displacement of teaspoons in an Australian research institute"

Saat melihat tujuan penelitian itu, saya langsung tergelitik untuk membaca artikel itu lebih lanjut. Artikel itu menyebutkan bahwa tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kecepatan hilangnya sendok teh berdasarkan tipe sendok teh atau tipe tearoom. Penelitian tersebut berlokasi di sebuah lembaga penelitian di Australia.

Yang dilakukan oleh peneliti adalah menempatkan sendok-sendok teh (yang terlebih dahulu ditandai) dengan tipe 2 tipe yang berbeda yaitu yang terbuat dari stainless steel dan yang terbuat dari bahan dengan kualitas yang lebih baik. Sendok teh tersebut ditempatkan menyebar di beberapa tearoom. Keberadaan sendok teh tersebut dipantau secara berkala tiap minggu selama 2 bulan, dan tiap 2 minggu selama 3 bulan, sehingga total waktu pengamatan adalah 5 bulan. Setelah menginjak bulan kelima, peneliti mengedarkan himbauan kepada para research staf dan student pengguna tea room di lembaga penelitian tersebut untuk mengembalikan sendok teh (yang bertanda) yang mereka miliki, apakah sendok tersebut berada di ruang kerja atau berada dirumah. Selain himbauan untuk mengembalikan sendok teh, mereka juga diminta mengisi kuisioner yang berkaitan dengan sendok teh.

Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa waktu paro (atau t1/2 atau half life) hilangnya teaspoon adalah 81 hari, atau sekitar 2.5 bulan. Tipe tearoom ternyata berpengaruh terhadap kecepatan hilangnya sendok teh, misalnya pada communal tearoom, sendok teh lebih cepat menghilang (half life 42 hari atau 1.5 bulan). Tetapi, tipe sendok ternyata tidak berpengaruh terhadap kecepatan hilangnya sendok teh, karena pada intinya, para peneliti di lembaga penelitian tersebut tidak peduli terbuat dari apakah sendok teh mereka, yang penting bisa digunakan untuk mengaduk. Di tempat saya pun, kadang ada beberapa teman yang mengaduk kopi atau teh dengan garpu atau pisau, atau apapun sepanjang bisa digunakan untuk mengaduk.

Yang semakin membuat saya tertawa membaca hasil penelitian ini, jika hasil penelitian di lembaga riset ini (dengan populasi kurang lebih 140 orang) diaplikasikan pada penduduk Melbourne (populasi sekitar 2.5 juta), dengan kecepatan hilangnya sendok teh yang sama, maka Melbourne akan kehilangan sendok teh sebanyak 18 juta pertahun. Jika jumlah ini dideskripsikan, panjang jajaran 18 juta sendok teh adalah lebih dari 2700 kilometer atau sama dengan garis luar pantai Mozambique..!!!

Menelusuri kemana perginya sendok teh tersebut, penelitian ini juga dilengkapi dengan kuisioner. Ternyata, lebih dari 50% penghuni lembaga penelitian tersebut menyatakan tidak mencuri/ mengambil sendok teh tersebut, dan lebih dari 50% juga menyatakan bahwa mencuri sendok teh adalah perbuatan yang tidak benar. Jika demikian, kemana perginya sendok teh dari tearoom???

Teori yang diadopsi dari Douglas Adams and Veet Voojagig, menyatakan bahwa ada planet yang menjanjikan bagi kehidupan untuk sendok teh diluar angkasa. Sehingga jika ada sendok teh yang tidak sedang digunakan atau diluar pengawasan, maka sendok teh akan perpindah melewati ruang dan waktu dimana mereka bisa menikmati Spoonoid Lifestyle atau kehidupan yang lebih baik bagi sendok teh di planet tersebut

Dugaan lainnya mengenai kemana perginya sendok teh ini, dikaitkan dengan teori counterphenomenological resistentialism, es choses sont contre nous (things are against us). Teori ini mempercayai bahwa benda tidak hidup punya kecenderungan tidak menyukai manusia, sehingga menyebabkan benda-tidak-hidup ini mengatur kehidupan manusia. Hilangnya sendok teh dengan kecepatan tinggi tanpa diketahui penyebabnya ini, membuktikan bahwa manusia sudah kehilangan kontrol terhadap sendok teh. 

Respon yang muncul dari tulisan ini lebih menggelitik. Ada yang mengkaitkan bahwa hilangnya sendok teh dikaitkan dengan teori evolusi, ada yang mengkaitkan dengan teori gravitasi lokal yang menyebabkan sendok teh mengkerut dan teori-teori lainnya. Berbagai komentar tentang artikel ini bisa dilihat disini:

Menurut saya, berdasarkan pengamatan dan pengalaman, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kecepatan hilangnya sendok teh  di suatu lembaga penelitian:

Pertama, sendok teh dilengkapi dengan tracking system sejenis satelit sehingga bisa dilacak keberadaannya. Saran ini juga disebutkan oleh penulis artikel diatas

Kedua, sendok teh diberi pengait yang terbuat dari kawat baja, yang tidak bisa digunting, dan tidak bisa dipindahkan. Sehingga, sendok teh akan tetap keberadaannya.

Ketiga, merawat sendok teh dengan baik supaya mereka bisa menikmati spoonoid lifestyle di bumi dan tidak lari ke "Planet Sendok Teh" diluar angkasa. Caranya antara lain dengan mencuci/membersihkan sendok teh langsung setelah digunakan, memberikan mereka tempat yang layak pada laci meja, atau memberikan cuti tahunan kepada sendok teh. I did it.....biasanya saya memberi annual leave pada sendok teh saya saat summer holiday (sekitar bulan Agustus atau September tiap tahunnya).

Keempat, meniadakan keberadaan sendok teh dan mengganti dengan stik kayu disposable, yang penting bisa untuk mengaduk. Berdasarkan hasil penelitian diatas, bukankah material sendok teh tidak mempengaruhi? Jadi mau apapun bahannya, yang penting bisa untuk mengaduk. 

Kelima, bring your own. Setiap orang wajib membawa sendiri sendok teh untuk dirinya sendiri, sehingga tiap orang bisa memiliki kontrol terhadap sendok teh masing-masing. Ini sejalan dengan conterphenomelogical resistentialism. Manuasia lah yang harus memiliki kontrol terhadap benda tidak hidup, bukan sebaliknya. Aturan ini sudah diterapkan di tempat saya. Saya kurang tahu mulai kapan, yang jelas semenjak saya datang (sekitar Oktober 2009), saya harus membawa sendok teh sendiri, karena memang tidak ada sendok teh yang tersisa lagi di common room. 

Anyway, ini hasil penelitian yang benar-benar menarik. Metodenya dirancang dengan baik, hasilnya pun bisa dijelaskan dengan baik. Terbukti, tanpa dana yang besar pun, penelitian bisa tetap berjalan asal dirancang dengan baik. Artikel ini pun bisa dimuat di British Medical Journal, Journal bergengsi dengan Impact Factor sekitar 13 (ISI web of Science, 2011). Untuk merancang penelitian yang baik, tentunya seorang peneliti harus melakukan pengamatan dan study mendalam mengenai jenis penelitian yang akan dikerjakan, tujuan, metode yang digunakan dan juga melakukan pembahasan dengan baik dari hasil penelitiannya. Hal ini dapat dilakukan dengan dukungan stimulan seperti kopi atau teh, dan tidak lupa sendok teh untuk mengaduk......!!!


Mari meneliti................:-))


February 2012, on lazy Sunday Night


Link article "The case of the disappearing teaspoons: longitudinal cohort study of the displacement of teaspoons in an Australian research institute":

http://www.bmj.com/content/331/7531/1498







Wednesday, March 09, 2011

Homesick

Hari minggu kemarin, tombol switch on- switch off terminal kabel milik saya tiba-tiba tidak bisa menyala dan tidak bisa bekerja. Wah, jadi agak repot memang karena terminal kabel itu menghubungkan socket/ plug atau colokan 2 ke 2. Sengaja memang saya membawa terminal socket/colokan 2 ke 2 untuk peralatan listrik mengingat peralatan elektronik yang saya bawa dari Indonesia seperti komputer, charger kamera dan HP masih menggunakan plug/colokan dengan 2 lubang, sedangkan di UK socketnya adalah 3 lubang. Sebenarnya begitu sampai UK, saya juga sudah membeli socket yang merubah 2 plug menjadi 3 plug, tapi hanya terbatas untuk 1 item barang elektronik. Sehingga saya menyambugnya lagi dengan socket 2 ke 2 yang saya bawa dari Indonesia, sehingga saya bisa menyalakan komputer, mengisi baterai HP dan kamera sekaligus.

Hubungannya dengan Homesick? Hmmm, gara-gara memperbaiki socket itu, tiba-tiba saya jadi ingat rumah alias Homesick.



Homesick atau perasaan kangen atau rindu, menurut Cambridge advanced learner's dictionary adalah suatu keadaan dimana kita merasa tidak nyaman karena berada jauh dari rumah dalam jangka waktu yang lama. Definisi lainnya adalah perasaan tidak nyaman atau lemah yang disebabkan oleh terpisahnya seseorang dari sesuatu object, dalam hal ini rumah, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja. Gara-gara homesick, mendorong saya untuk bertanya kepada mbah Google, apa sebenarnya homesick itu dan apa saja yang membuat sesorang merasa homesick.

Ternyata banyak faktor yang mempengaruhi apakah seseorang itu akan mudah terjangkiti homesickness atau tidak. Faktor-faktor tersebut antara lain usia, jenis kelamin (gender), budaya, dan ketegaran atau rigidity seseorang.

1. Faktor Usia
Katanya, anak-anak akan lebih mudah terjangkiti penyakit homesick dibandingkan orang dewasa. Sepertinya ini ada benarnya, karena anak-anak biasanya lebih besar ketergantungannya terhadap suatu object, dalam hal ini rumah atau orang tua (ayah dan ibu) sehingga akan lebih mudah terjangkiti homesickness.

Jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu, saat serombongan mahasiswa saya datang menghadap, meminta saya agar membatalkan kuliah sore hari, yang dimulai pukul 4 sore. Biasanya, kelas yang dimulai pukul 4 sore ini akan berakhir sekitar pukul 6 sore. Mereka meminta supaya saya mengganti kuliah ini dilain hari. Ketika saya tanya alasannya, ternyata mereka tidak ingin pulang terlalu sore karena ingin mudik ke kampung halamannya sore ini, karena besok adalah 1 Ramadhan, hari pertama puasa. Mereka ingin membuka puasa pertama di kampung halamannya. Mahasiswa saya kebanyakan berasal dari wilayah Solo dan sekitarnya sehingga untuk mudik diperlukan waktu tidak lebih dari 5 jam. Wah, kalo untuk mengganti jam kuliah dilain hari, terus terang saya agak keberatan, karena jadwal saya kedepannya juga sudah penuh. Mungkin jika di cancel, maka saya akan lebih senang. Tapi tentu mahasiswa, dekan dan universitas tempat saya mengajar menjadi tidak senang. Oleh karena itu, saya berkata kepada para mahasiswa, bahwa saya berjanji akan mengakhiri kuliah jam 5.30. "Terimakasih, Bu", ucap mereka lega. "Selamat mudik ya, saya saja malah nggak mudik nih", saya berkata kepada mereka. "Ah, Ibu 'kan nggak perlu mudik. Ibu 'kan sudah besar," ucap salah seorang mahasiswa saya. Ha..ha..ha....saya jadi terpingkal-pingkal mendengar jawaban salah seorang mahasiswa tadi. Mungkin maksudnya, saya tidak perlu mudik karena saya sudah cukup dewasa atau tua, bukan seperti mereka yang umurnya jauh dibawah saya. Jadi, memang terbukti 'kan jika bertambahnya usia mengurangi perasaan homesick ini. Meskipun sebenarnya saya juga pengin pulang, pengin sahur dengan menu "lombok kethok" masakan Ibu saya he..he...

2. Faktor Gender
Dari sebuah penelitian tentang homesick yang saya baca, untuk wilayah UK, wanita merasa lebih mudah merasa homesick dibandingkan pria. Penelitian ini membandingkan homesickness dari segi gender di UK dan di Netherlands dikalangan para pelajar. Di Netherlands, tidak ada pengaruh perbedaan gender ini terhadap perasaan homesickness. Konon katanya, dari jurnal yang saya baca ini, di Netherlands jarak antar kota relatif dekat, dan tersedia fasilitas transport gratis untuk pelajar, sehingga mereka biasanya akan pulang ke rumah tiap weekend (http://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1348/000712602162508/pdf).

Menurut saya, mungkin juga karena wanita lebih bisa mengungkapkan emosinya dibandingkan pria, sehingga jika merasa homesick, akan terlihat sekali. Seperti yang saya alami saat saya menghadapi socket yang rusak tadi. Sambil membongkar dan memperbaiki socket tersebut, saya jadi ingat Bapak saya. Coba jika ada beliau saat ini, saya tidak perlu memutar obeng dan membongkar socket itu sendiri. Bapak saya memang punya hobi mengutak-atik dan memperbaiki segalanya, mulai dari alat listrik sampai mainan milik keponakan saya dan pasti juga beliau dengan senang hati memperbaiki tombol socket yang rusak ini. Gara-gara ingat Bapak, saya jadi ingat Ibu, kangen dengan nasihat-nasihatnya yang relijius, yang membuat saya selalu ingat bahwa manusia itu tidak ada artinya dibandingkan Sang Pencipta. Kangen dengan Bapak-Ibu, membuat saya juga kangen dengan keponakan, si Tolo-Tolo, yang tidak pernah bisa diam, dan tiap kali saya menelepon ke Indonesia, dia selalu minta robot bertopeng dan bersayap. Dan saya sampai saat ini belum menemukan gambaran bagaimana bentuknya robot bertopeng dan bersayap itu. Gara-gara itu semua, saya jadi kangen rumah.......Hanya gara-gara memperbaiki tombol switch on-off pada terminal socket....hwa.......

3. Faktor Budaya
Faktor budaya ternyata juga mempengaruhi perasaan homesickness ini. Seorang pelajar Indonesia yang baru pertama kali sekolah di Inggris, tentu akan merasa lebih homesickness dibandingkan dengan pelajar Indonesia yang sudah lama sekolah di Inggris. Perasaan ini juga dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kesulitan dalam menghadapi hal baru, merasa tidak nyaman dengan lingkungan yang baru dan belum bisa memanfaatkan situasi yang dihadapinya saat ini.

Perbedaan budaya memang sering membuat perasaan homesick muncul. Jadi ingat sewaktu baru pindah ke UK, saya sering membayangkan pulang kuliah terus mampir membeli bakso atau gorengan dipinggir jalan. Jalan-jalan bersama sepulang kuliah dan banyak hal lain. Di UK, hari kerja adalah digunakan untuk kerja, sehingga pertokoan pun tutup tidak lebih dari jam 5.30 dihari kerja, kecuali supermarket besar. Kongkow-kongkow hanya dilakukan saat weekend, Jum'at malam dan Sabtu. Alhasil, tidak ada acara kongkow dan mampir beli bakso atau gorengan dihari kerja. Hari kerja, setelah jam 5 sore, acaranya adalah pulang ke rumah, tanpa ada acara kongkow. Ini juga yang membuat saya kangen Indonesia.............

Perasaan kehilangan terhadap teman, ingin mencari teman baru ditempat yang baru, merindukan tipe teman lama di tempat yang baru, serta merasa kehilangan teman curhat dan bisa dipercaya juga semakin memperparah keadaan homesickness ini, terutama dikalangan pelajar. Selain itu, kadang ada perasaan bahwa situasi sebelumnya lebih baik dari sekarang dan juga ada perasaan menyesal karena meninggalkan situasi yang lama, dimana kita sudah merasa nyaman. Ini juga memicu perasaan homesickness. Memang, zona nyaman itu terkadang terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

4. Faktor Rigidity atau Ketegaran
Seberapa kuat ikatan seseorang terhadap suatu object, maka akan mempengaruhi tingkat homesickness-nya. Seseorang yang tidak pernah hidup terpisah dari orangtuanya, mungkin akan merasakan homesickness yang lebih parah dibandingkan dengan seseorang yang sudah terbiasa hidup terpisah dari orangtuanya.

Saya sendiri sebenarnya sudah terbiasa tinggal terpisah dari orangtua sejak SMA. Orangtua saya adalah PNS yang sering dipindahtugaskan kebeberapa daerah. Khawatir dengan pendidikan anaknya yang sudah menginjak SMA, yang kemungkinan akan kacau jika mengikuti ortu yang pindah tugas, orangtua saya memutuskan untuk memusatkan pendidikan anak-anaknya di Jogja. Kebetulan di Jogja juga banyak saudara yang bisa membantu mengawasi. Alhasil, saya dan kakak sudah belajar untuk hidup mandiri sejak SMA. Dengan track-record tinggal terpisah dari orangtua yang sudah cukup lama, tapi kenapa saya masih sering kena homesick juga? Tidak terbayangkan bagaimana dengan seseorang yang tidak pernah tinggal terpisah dari orangtuanya.

Tingkat ketegaran atau rigidity ini juga mempengaruhi kecepatan munculnya perasaan homesick. Bagi saya, biasanya saya akan mulai merasa homesick jika lebih dari 3 bulan tidak bertemu orangtua dan tidak mengunjungi rumah. Selain itu, jika sedang dibawah tekanan, misal harus menyusun report atau bertemu pekerjaan yang bertumpuk, tiba-tiba saya merasa ingin pulang ke rumah. Tapi kalo yang terakhir ini, sebenarnya homesick atau lari dari tanggung jawab ya???

Bagaimana denganmu? Apa yang kamu pikirkan tentang homesick?
Anyway, saya akhirnya bisa memperbaiki terminal socket yang saya bawa dari Indonesia, dengan perasaan homesickness.


*I am homesick for everything that I am willing to remember*


Bibliography:

Monday, January 10, 2011

Jebakan Wasabi

Sudah pernah mencicipi kacang wasabi? Snack seperti kacang telur dengan lapisan penyalut yang berwarna hijau, dan rasa yang "spesifik". Wasabi adalah nama bumbu berwarna kehijauan yang menyalut kacang telur itu. Kacang ini begitu menarik bagi saya, karena pengalaman baru yang saya dapat dengan snack ini. Batuk dan pilek yang saya rasakan sejak libur Christmas lalu, jadi hilang akibat efek dari mengkonsumsi kacang ini. Tertarik.....? Bisa dicoba.........

Snack sejenis kacang telur ini saya temukan di supermarket dekat rumah. Saat itu, sebenarnya saya ingin membeli pistachio, snack kacang-kacangan kegemaran saya. Sayangnya stock pistachio sedang kosong. Pilih punya piilih, saya tertarik dengan "wasabi peanut", dengan gambar kemasan seperti kacang telur berwarna kehijauan. Membayangkan kacang shanghai, snack favorit saya di Indonesia, akhirnya saya memutuskan membeli kacang wasabi itu, sebagai ganti pistachio. Lagipula pada kemasannya mencantumkan kata "crispy and hot". Woww....pasti gurih dan enak, karena ada sedikit rasa pedasnya. Sudah beberapa kali saya membeli kacang pedas di Inggris raya ini, tapi belum ada yang pedasnya pas, dan rasa kacangnya kadang malah seperti rasa kacang melempem. Semoga kacang yang ini enak dan cocok di lidah.

Sampai dirumah, sambil santai browsing internet dan minum teh hijau hangat, saya buka kacang washabi itu. Pertama menempel di lidah, kekagetan tampaknya terjadi pada lidah saya. Ya......kaget yang luar biasa......Mungkin kalo lidah ini bisa berteriak, maka lidah saya akan berteriak. Sayang, lidah memang tidak bertulang, oleh karena itu tidak bisa berteriak (*memang tidak ada hubungan antara tulang dan produksi suara*).

Rasa yang benar-benar aneh untuk diterjemahkan dalam tulisan, telah dirasakan oleh indera pengecap saya. Antara pahit, getir, pedas, dan...mmmm.....rasa yang aneh, saya sulit sekali menerjemahkan rasa itu dalam kata-kata. Lambat saya mulai mengunyah kacang telur itu. Lapisan kulitnya akhirnya hancur diantara gigi-gigi dan memunculkan rasa kacang yang selama ini sudah akrab dengan saya. Eh...benar ternyata tulisan pada kemasan itu, memang rasanya "crispy and hot". Lapisan penyalut kacang tersebut, gurih juga ternyata. Kacang di dalamnya juga enak, sama dengan kacang atom garuda atau dua kelinci, merek yang sering saya beli waktu di Indonesia. Enak juga ternyata, jadi kacang wasabi pun terus berlanjut masuk dalam mulut saya. Tapi sepertinya lidah saya trauma untuk merasakan wasabi, sehingga saat masuk mulut, gigi geligi saya langsung melumat kacang wasabi itu, sehingga yang tersisa dilidah adalah rasa gurih tepung lapisan penyalut dan kacang, bukan bumbu hijau di lapisan penyalut yang rasanya "aneh" itu.

Supaya tidak penasaran dengan kacang wasabi, ini gambar kacang wasabi, seperti yang saya beli:



Bentuknya seperti kacang atom biasa, hanya lapisan penyalutnya yang berwarna hijau, dengan bumbu yang tersebar pada lapisan penyalut.

Untungnya, saya merasakan efek lain dari mengkonsumsi kacang ini. Rongga hidung yang mampet akibat pilek, tiba-tiba terasa longgar dan mudah untuk bernafas. Batuk berdahak saya juga berkurang akibat makan kacang ini. Ajaib ya.....Jadi penasaran untuk lebih mencari tahu, apa sih yang terkandung pada kacang wasabi ini. Lets do goggling.......

Wasabi, adalah sejenis bumbu dari tanaman Wasabia japonica, yang sering digunakan di Jepang untuk memberi rasa pada makanan. Rasa yang dihasilkan adalah rasa pedas, tapi lebih kuat dari rasa yang dihasilkan dari cabe atau merica. Bagian yang digunakan untuk menghasilkan rasa ini adalah bagian daun dan akar dari tanaman Wasabia Japonica.




Tanaman Wasabi ini banyak tumbuh di daerah pegunungan di Jepang dan memang digunakan sebagai bumbu masak pada kebanyakan masakan Jepang. Rasa yang dihasilkan khas sekali dan warna hijau pada Wasabi juga berfungsi sebagai pewarna alami pada makanan.

Rasa yang khas yang dihasilkan oleh Wasabi dikarenakan adanya kandungan isothiocyanate pada tamanan ini yaitu 6-methylthiohexyl isothiocyanate, 7-methylthioheptyl isothiocyanate 8-methylthiooctyl isothiocyanate. Efek farmakologi dari senyawa isothiocyanate ini adalah sebagai anti inflamasi, anti mikroba, anti platelet dan anti cancer.

Efek anti mikroba dari kacang wasabi inilah yang mungkin berkhasiat menyembuhkan batuk dan pilek saya. Bukti-bukti ilmiah mengenai efek farmakologi tanaman ini, memang kebanyakan menunjukkan adanya efek anti mikroba, baik terhadap fungi dan bakteri. Bahkan, ada satu artikel juga yang menyebutkan bahwa wasabi juga bisa digunakan sebagai anti virus, khususnya virus swine influensa (H1N1). Penyakit flu yang cukup merepotkan pemerintah Inggris pada winter kali ini (http://www.nhs.uk/conditions/pandemic-flu/Pages/Introduction.aspx).

Kacang Wasabi, meskipun rasa yang kau hasilkan "aneh" eh "unik", tapi kau telah berjasa menyembuhkan batuk dan pilek. Dan terlebih lagi, kacang wasabi ini mendorong saya untuk sekali-sekali menulis yang 'agak" ilmiah pada blog yang "tidak mutu" ini.