Sunday, February 06, 2011

Antara Zona Nyaman dan Tidak Nyaman

Weekend kali ini tidak ada agenda jalan-jalan. Cuaca yang buruk alias angin kencang membuat saya membatalkan niat untuk berkunjung ke River Trent sekaligus mengintip kandang Nottingham Forest di daerah West Bridgford. Tidak terlalu jauh memang dari City Center, hanya angin kencang hari ini, dan juga yang saya rasakan saat pulang kampus Jum'at sore kemarin, serasa meniup kuat badan dan membawa saya terbang. Padahal badan saya termasuk kategori ukuran besar, coba bayangkan kalo saya berbobot dibawah 45 kilogram, mungkin saya sudah diterbangkan hingga Derby, district di sebelah Nottinghamshire.

Karena mati gaya dirumah, tidak tahu lagi apa yang harus dikerjakan, jadi yang saya kerjakan Sabtu ini adalah merenung. Merenung dan menulis tentunya, supaya ada bukti sudah melakukan perenungan. Bukankah harus ada bukti supaya tidak disangka hoax?

Saya merasa minggu ini adalah minggu yang berat. Ya, saya merasa capek dan lelah untuk minggu ini. Rasa capek itu semakin bertambah setelah membayangkan apa yang harus saya kerjakan minggu depan. Tugas dari supervisor saya untuk menjadi supervisor untuk 2 orang undergraduate project students membuat saya "juggling" dari satu lab ke lab lainnya. Ditahun kedua program PhD saya ini, saya harus menyelesaikan pekerjaan cell culture di Tissue Engineering lab, sedangkan project students yang harus saya bimbing, bekerja di Drug Delivery lab. Minggu ini dimulai dari menyiapkan dan belanja chemical, menyusun timeline dan rencana project, meng-arrange protokol apa yang harus mereka siapkan, serta berpacu dengan target kerja saya sendiri membuat tenaga dan pikiran saya terkuras. Belum lagi minggu depan saya harus mentraining mereka menggunakan instrument di laboratorium, mendemonstrasikan teknik kerja yang harus mereka kerjakan dan mengerjakan pekerjaan saya sendiri.

Perenungan ini adalah perenungan tentang pikiran "aneh"yang muncul lagi Kamis malam lalu. Pikiran yang sama waktu saya sedang berjuang untuk menyelesaikan tesis Master saya, sementara saya juga masih harus ujian matakuliah teori. Apa sih yang saya cari dengan sekolah? Buat apa sekolah lagi, toh tanpa sekolah saya juga bisa jadi dosen dan mengajar mahasiswa. Pun pikiran itu muncul lagi 2 malam yang lalu. Toh dengan gelar Master, saya sudah bisa dan berhak mengajar mahasiswa undergraduate (S1) di Indonesia.

Istighfar, itu yang saya lakukan saat pikiran itu muncul. Dan saya tiba-tiba ingat dengan kata-kata yang sering saya ucapkan pada teman-teman di kampus dulu, "Ayo, mundurlah satu langkah ke belakang untuk maju beribu langkah ke depan". Kata-kata itu yang selalu saya ucapkan ke teman-teman kolega saya di kampus untuk memotivasi mereka untuk tetap semangat melanjutkan sekolah. Ternyata susah juga ya menepati kata-kata sendiri.

Bagi dosen seperti saya, memang banyak sekali yang harus dikorbankan pada saat memutuskan untuk sekolah lagi. Meninggalkan kampus tempat kerja, meninggalkan mengajar dan melepas jabatan struktural, yang semuanya itu tentu terkait dengan konsekuensi finansial. Institusi pendidikan tempat saya bekerja memang termasuk yang baik dalam memperlakukan dosen yang sedang studi lanjut. Kami tetap menerima gaji pokok, sedangkan honor mengajar tidak. Kebijakan yang menurut saya memang adil. Memang selama studi lanjut, kami tidak diberi beban mengajar sehingga tidak menerima honor mengajar. Tapi, jumlah gaji pokok yang saya terima itu besarnya (atau kecilnya?) hanya sepertiga dari honor yang saya terima jika saya aktif mengajar dikampus alias sangat kecil. Pengorbanan lainnya adalah harus melepas proyek-proyek penelitian bernilai tinggi dalam skala rupiah, yang seharusnya bisa dikerjakan saat tidak studi lanjut. Bagi saya tidak mungkin mengurus proyek di Indonesia sedangkan saya sendiri sedang berada di UK.

Dari segi non finansial, banyak sekali yang harus ditinggalkan saat memutuskan untuk sekolah lagi. Seusia saya, saat ini, sebenarnya saya sudah cukup nyaman dengan apa yang ada disekeliling saya. Gelar master sudah ditangan, jabatan fungsional juga sudah lumayan untuk mengajar mahasiswa S1, proyek-proyek penelitian pun mulai berdatangan dari hasil menjalin lobi sana sini. Mengajar, mengawasi praktikum, sesekali siaran program kesehatan di radio, pulang, belanja, sesekali ke gym dan berenang, santai dirumah, sepertinya menjadi rutinitas yang terpola dengan rapi. Perawatan ke salon, pijat dan spa, kongkow dengan teman-teman, mencoba tempat makan baru, shopping, sesekali travelling ke negara tetangga, menjadi bagian kenyamanan yang kadang terasa berat untuk ditinggalkan.

Lalu apa yang saya cari dengan sekolah lagi? Well, saya sendiri sering tidak konsisten untuk menjawabnya. Saat saya sedang sadar dan menjadi pribadi yang baik, saya akan menjawab bahwa tujuan saya sekolah adalah untuk meningkatkan pengetahuan, menjawab rasa ingin tahu, menambah pengalaman, berjuang untuk ummat dijalan pendidikan dan sejuta alasan ideal lainnya. Saat sedang bosan dan capek dengan sekolah, saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, dan kembali berpikir," Iya ya, ngapain capek-capek sekolah lagi?"

Saya yakin seyakin-yakinnya, pada waktu saya apply beasiswa untuk program PhD saat ini, saya sedang menjadi pribadi yang baik. Maka dari itu saya akhirnya memutuskan mendaftar program beasiswa. Tapi tidak pada saat saya dinyatakan diterima dan berhak atas beasiswa ini. Senang, tapi sedikit sekali rasa itu. Saat dinyatakan diterima beasiswa ini, saya justru menangis. Menangis dibalik senyuman, karena saya tidak mungkin menangis di depan orang-orang yang memberikan ucapan selamat pada saya. Sewaktu dinyatakan diterima beasiswa, yang saya rasakan adalah beban yang sangat berat. Beban untuk bersiap meninggalkan zona nyaman yang saya miliki menuju zona tidak nyaman.

Saya pernah merasakan bagaimana tidak enaknya berpindah dari zona nyaman ke zona tidak nyaman ketika saya memutuskan kuliah lagi untuk mengambil program master. Beban kuliah yang sangat tinggi, berada di lingkungan baru, dosen yang gaya mengajarnya berbeda dengan dosen-dosen saya waktu S1, menjadi beban berat bagi saya. Alhamdulillah, Allah selalu sayang dengan hambanya. Dibulan ketiga sejak saya menginjak zona tidak nyaman saat mengambil program S2, saya mulai merasa nyaman dengan teman-teman yang sangat baik, sehingga zona tidak nyaman itu berubah menjadi zona nyaman hingga saya menyelesaikan program master saya.

Menerima beasiswa untuk program PhD ini membuat saya kembali harus bersiap untuk mengeluarkan langkah saya dari zona nyaman. Saya ingat dengan kata-kata teman baik saya, bahwa semakin dewasa usia seseorang, semakin sulit rasanya untuk melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman. Hal itu juga saya rasakan. Alhasil 6 bulan sejak dinyatakan diterima beasiswa, saya tidak melakukan progress apapun. Padahal beasiswa saya akan expired dalam tempo 1 tahun jika dalam 1 tahun saya tidak mengambil jatah beasiswa itu.

Dan sekali lagi, Allah memang maha pembolak-balik hati. Dialog kecil dengan diri sendiri akhirnya meyakinkan saya untuk menempuh segala usaha agar jatah beasiswa itu tidak hilang karena expired. Betapa ratusan kandidat dari berbagai negara berusaha mendapatkan beasiswa itu, sedangkan saya yang sudah mendapatkannya, malah berkeinginan untuk melepaskannya. Akhir 2008, saya memantapkan hati menerima beasiswa ini. Segala usaha juga saya lakukan untuk berburu universitas yang sesuai dengan bidang minat saya. Saya juga mengajukan pengunduran diri dari jabatan struktural untuk lebih berkonsentrasi mencari sekolah. Bulan Juni 2009, segala sesuatunya telah siap, dan tinggal mempersiapkan keberangkatan. Akhir September 2009 akhirnya saya menginjakkan kaki di UK, dan juga melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman.

Dari kenyataan yang saya alami, saya berpendapat bahwa sebenarnya zona tidak nyaman itu tidak pernah ada. Kenyamanan dan ketidak-nyamanan semua itu ada dibawah kendali diri kita sendiri. Tentu saya juga merasa tidak nyaman ketika menginjakkan kaki di UK. Bahasa yang berbeda, budaya yang berbeda, makanan yang berbeda, membuat segalanya jadi tidak nyaman. Tapi setidaknya saat ini saya sudah merasakan bahwa zona itu sedikit demi sedikit sudah berubah menjadi nyaman bagi saya. Teman-teman yang baik dan siap menolong disekeliling saya, jalan-jalan ke tempat-tempat terkenal di UK, bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai karakter, bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara, membuat saya merasa mulai nyaman dengan semua ini. Dan ini berarti bahwa saya sudah mulai memperluas zona nyaman saya dan menyulap zona tidak nyaman menjadi zona nyaman...yayy......

To summarize, untuk memperluas zona nyaman, tentunya kita harus berani bergerak keluar dari zona nyaman itu sendiri dan merubah zona tidak nyaman menjadi zona nyaman. Bukankah jika zona nyaman yang kita miliki semakin luas, maka kita akan semakin leluasa untuk bergerak? Dan jangan lupa untuk selalu menempatkan ikhlas, yaitu melakukan segala sesuatunya hanya karena Allah, dan sabar dihati kita.




Nottingham, 5 February 2011
Renungan Sabtu malam






4 comments:

Warnie_peach said...

nyaman atau tidak bagiku anda sangat beruntung mbak, bahkan saya berharap bisa seberuntung anda hehehehhehe

Anita Sukmawati said...

Thanks Warnie, sudah mengingatkan.
Keberuntungan itu bisa diusahakan Warnie, mari diusahakan dengan sebaik-baiknya. Dimana ada kemauan disitu ada jalan...

Anonymous said...

kalo saya kadang sudah sampe ke pertanyaan: buat apa hidup kalo mati lebih enak? hehehe


jadi "org yang selalu baik" itu susah ya bu.. :-)

Anita Sukmawati said...

He..he...benar sekali Ridho. Seperti juga tingkat "keimanan", tingkat "kebaikan" pada diri seseorang itu juga ada naik dan turun. Kalo sedang naik, lakukanlah kebaikan sebanyak-banyaknya. Kalo sedang turun, lakukan kebaikan-kebaikan yang wajib, sehingga tidak berubah menjadi melakukan kejahatan.