Showing posts with label Review buku. Show all posts
Showing posts with label Review buku. Show all posts

Monday, February 20, 2012

Peneliti dan Sendok Teh (Researcher and Teaspoon)


Menurut definisi Kamus Bahasa Indonesia (www.KamusBahasaIndonesia.org), "peneliti" adalah sesorang yang melakukan penelitian, sedangkan definisi "sendok teh" adalah sendok kecil yang digunakan untuk mengaduk minuman (kopi, teh dan sebagainya). Lalu apa hubungan antara peneliti dan sendok teh?

Kesulitan menemukan sendok atau alat yang dapat saya gunakan untuk mengaduk kopi saat di kampus, mendorong saya untuk membawa sendiri sendok teh dari rumah. Tentunya sendok tersebut saya simpan di laci meja saya, dibagian atas, bercampur dengan kalkulator, penggaris dan alat tulis yang lain. Kadang sendok teh itu juga saya kantongi di saku jeans saya, jika saya belum punya waktu untuk masuk ke ruang kerja saya. Memang terkesan agak "jorok" atau "disgusting", tapi perlu diketahui, saya selalu membilas sendok teh habis pakai tersebut dengan tap water sebelum masuk ke saku jeans atau laci meja saya. Ini berarti sendoknya dalam keadaan bersih 'kan dan tidak mungkin didatangi semut-semut nakal. Terlebih lagi di Inggris tidak ada semut.

Dan ternyata, masalah peneliti dan sendok teh ini tidak hanya terjadi di tempat saya. Kesimpulan ini terjadi setelah teman satu ruangan saya menempelkan artikel dari jurnal BMJ (British Medical Journal) di papan pengumuman. Papan pengumuman ini memang biasa digunakan untuk menempelkan segala informasi yang berkaitan dengan group research kami, mulai dari jadwal meeting, jurnal terbaru, hingga hari ulang tahun anggota group.Judul artikel tersebut adalah "The case of the disappearing teaspoons: longitudinal cohort study of the displacement of teaspoons in an Australian research institute"

Saat melihat tujuan penelitian itu, saya langsung tergelitik untuk membaca artikel itu lebih lanjut. Artikel itu menyebutkan bahwa tujuan diadakan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kecepatan hilangnya sendok teh berdasarkan tipe sendok teh atau tipe tearoom. Penelitian tersebut berlokasi di sebuah lembaga penelitian di Australia.

Yang dilakukan oleh peneliti adalah menempatkan sendok-sendok teh (yang terlebih dahulu ditandai) dengan tipe 2 tipe yang berbeda yaitu yang terbuat dari stainless steel dan yang terbuat dari bahan dengan kualitas yang lebih baik. Sendok teh tersebut ditempatkan menyebar di beberapa tearoom. Keberadaan sendok teh tersebut dipantau secara berkala tiap minggu selama 2 bulan, dan tiap 2 minggu selama 3 bulan, sehingga total waktu pengamatan adalah 5 bulan. Setelah menginjak bulan kelima, peneliti mengedarkan himbauan kepada para research staf dan student pengguna tea room di lembaga penelitian tersebut untuk mengembalikan sendok teh (yang bertanda) yang mereka miliki, apakah sendok tersebut berada di ruang kerja atau berada dirumah. Selain himbauan untuk mengembalikan sendok teh, mereka juga diminta mengisi kuisioner yang berkaitan dengan sendok teh.

Dari hasil penelitian ini, ditemukan bahwa waktu paro (atau t1/2 atau half life) hilangnya teaspoon adalah 81 hari, atau sekitar 2.5 bulan. Tipe tearoom ternyata berpengaruh terhadap kecepatan hilangnya sendok teh, misalnya pada communal tearoom, sendok teh lebih cepat menghilang (half life 42 hari atau 1.5 bulan). Tetapi, tipe sendok ternyata tidak berpengaruh terhadap kecepatan hilangnya sendok teh, karena pada intinya, para peneliti di lembaga penelitian tersebut tidak peduli terbuat dari apakah sendok teh mereka, yang penting bisa digunakan untuk mengaduk. Di tempat saya pun, kadang ada beberapa teman yang mengaduk kopi atau teh dengan garpu atau pisau, atau apapun sepanjang bisa digunakan untuk mengaduk.

Yang semakin membuat saya tertawa membaca hasil penelitian ini, jika hasil penelitian di lembaga riset ini (dengan populasi kurang lebih 140 orang) diaplikasikan pada penduduk Melbourne (populasi sekitar 2.5 juta), dengan kecepatan hilangnya sendok teh yang sama, maka Melbourne akan kehilangan sendok teh sebanyak 18 juta pertahun. Jika jumlah ini dideskripsikan, panjang jajaran 18 juta sendok teh adalah lebih dari 2700 kilometer atau sama dengan garis luar pantai Mozambique..!!!

Menelusuri kemana perginya sendok teh tersebut, penelitian ini juga dilengkapi dengan kuisioner. Ternyata, lebih dari 50% penghuni lembaga penelitian tersebut menyatakan tidak mencuri/ mengambil sendok teh tersebut, dan lebih dari 50% juga menyatakan bahwa mencuri sendok teh adalah perbuatan yang tidak benar. Jika demikian, kemana perginya sendok teh dari tearoom???

Teori yang diadopsi dari Douglas Adams and Veet Voojagig, menyatakan bahwa ada planet yang menjanjikan bagi kehidupan untuk sendok teh diluar angkasa. Sehingga jika ada sendok teh yang tidak sedang digunakan atau diluar pengawasan, maka sendok teh akan perpindah melewati ruang dan waktu dimana mereka bisa menikmati Spoonoid Lifestyle atau kehidupan yang lebih baik bagi sendok teh di planet tersebut

Dugaan lainnya mengenai kemana perginya sendok teh ini, dikaitkan dengan teori counterphenomenological resistentialism, es choses sont contre nous (things are against us). Teori ini mempercayai bahwa benda tidak hidup punya kecenderungan tidak menyukai manusia, sehingga menyebabkan benda-tidak-hidup ini mengatur kehidupan manusia. Hilangnya sendok teh dengan kecepatan tinggi tanpa diketahui penyebabnya ini, membuktikan bahwa manusia sudah kehilangan kontrol terhadap sendok teh. 

Respon yang muncul dari tulisan ini lebih menggelitik. Ada yang mengkaitkan bahwa hilangnya sendok teh dikaitkan dengan teori evolusi, ada yang mengkaitkan dengan teori gravitasi lokal yang menyebabkan sendok teh mengkerut dan teori-teori lainnya. Berbagai komentar tentang artikel ini bisa dilihat disini:

Menurut saya, berdasarkan pengamatan dan pengalaman, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi kecepatan hilangnya sendok teh  di suatu lembaga penelitian:

Pertama, sendok teh dilengkapi dengan tracking system sejenis satelit sehingga bisa dilacak keberadaannya. Saran ini juga disebutkan oleh penulis artikel diatas

Kedua, sendok teh diberi pengait yang terbuat dari kawat baja, yang tidak bisa digunting, dan tidak bisa dipindahkan. Sehingga, sendok teh akan tetap keberadaannya.

Ketiga, merawat sendok teh dengan baik supaya mereka bisa menikmati spoonoid lifestyle di bumi dan tidak lari ke "Planet Sendok Teh" diluar angkasa. Caranya antara lain dengan mencuci/membersihkan sendok teh langsung setelah digunakan, memberikan mereka tempat yang layak pada laci meja, atau memberikan cuti tahunan kepada sendok teh. I did it.....biasanya saya memberi annual leave pada sendok teh saya saat summer holiday (sekitar bulan Agustus atau September tiap tahunnya).

Keempat, meniadakan keberadaan sendok teh dan mengganti dengan stik kayu disposable, yang penting bisa untuk mengaduk. Berdasarkan hasil penelitian diatas, bukankah material sendok teh tidak mempengaruhi? Jadi mau apapun bahannya, yang penting bisa untuk mengaduk. 

Kelima, bring your own. Setiap orang wajib membawa sendiri sendok teh untuk dirinya sendiri, sehingga tiap orang bisa memiliki kontrol terhadap sendok teh masing-masing. Ini sejalan dengan conterphenomelogical resistentialism. Manuasia lah yang harus memiliki kontrol terhadap benda tidak hidup, bukan sebaliknya. Aturan ini sudah diterapkan di tempat saya. Saya kurang tahu mulai kapan, yang jelas semenjak saya datang (sekitar Oktober 2009), saya harus membawa sendok teh sendiri, karena memang tidak ada sendok teh yang tersisa lagi di common room

Anyway, ini hasil penelitian yang benar-benar menarik. Metodenya dirancang dengan baik, hasilnya pun bisa dijelaskan dengan baik. Terbukti, tanpa dana yang besar pun, penelitian bisa tetap berjalan asal dirancang dengan baik. Artikel ini pun bisa dimuat di British Medical Journal, Journal bergengsi dengan Impact Factor sekitar 13 (ISI web of Science, 2011). Untuk merancang penelitian yang baik, tentunya seorang peneliti harus melakukan pengamatan dan study mendalam mengenai jenis penelitian yang akan dikerjakan, tujuan, metode yang digunakan dan juga melakukan pembahasan dengan baik dari hasil penelitiannya. Hal ini dapat dilakukan dengan dukungan stimulan seperti kopi atau teh, dan tidak lupa sendok teh untuk mengaduk......!!!


Mari meneliti................:-))


February 2012, on lazy Sunday Night


Link article "The case of the disappearing teaspoons: longitudinal cohort study of the displacement of teaspoons in an Australian research institute":

http://www.bmj.com/content/331/7531/1498







Monday, March 14, 2011

Namaku Margaret

Judul Buku : Are You There, God? It's Me, Margaret
Penulis : Judy Blume
Jumlah halaman: 152 halaman
Penerbit : Macmillan Children's Books


Novel versi Bahasa Indonesianya pertama kali saya baca sekitar awal tahun 90-an, saat saya masih SMP. Cerita ini dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Gadis, majalah remaja yang sangat terkenal saat itu. Menurut saya, ceritanya sangat berkesan sekali, mungkin juga dikarenakan saat itu saya juga baru memasuki masa remaja, sehingga merasa apa yang dialami Margaret ini juga terjadi pada saya.

Setelah mencari-cari, akhirnya saya menemukan buku versi aslinya (berbahasa Inggris) di Amazon. Cukup murah, hanya 2.5 pounds termasuk ongkos kirim. Ternyata ini novel karangan Judy Blume, penulis Amerika yang terkenal dengan novel-novel khusus remaja. Novel dengan judul "Are You There, God? It's Me, Margaret" ini ternyata sudah diterbitkan sejak tahun 70an. Ini berarti saat saya membaca versi majalah Gadis, novel ini sudah berusia 20 tahun, dan saat saya membaca versi Bahasa Inggrisnya, novel ini sudah berusia 40 tahun. Wowww.......

Novel berlatar cerita di daerah New Jersey ini bercerita tentang bagaimana seorang remaja sedang berkembang secara psikologis dan kebimbangannya tentang agama apa yang harus dia anut. Margaret duduk di 6th grade, dan tidak memiliki agama. Ayah Margaret adalah seorang Jewish dan Ibunya seorang Christian. Mereka tidak memaksakan Margaret untuk menganut agama tertentu sampai nanti Margaret dewasa dan menentukan sendiri keinginannya. Tapi, justru hal inilah yang membuat Margaret bingung, karena dia merasa berbeda dengan teman-temannya yang lain, tidak ke kuil Jewish atau ke Sekolah minggu untuk beribadah. Hal ini juga yang membuat Margaret membenci hari-hari libur keagamaan, karena dia merasa tidak ada sesuatu yang spesial di hari libur keagamaan.

Meskipun belum memiliki agama, Margaret percaya akan adanya Tuhan. Ini yang membuat Margaret selalu berdialog dengan Tuhan untuk segala hal yang ada dipikirannya atau yang dia inginkan. Termasuk saat ingin memiliki tubuh yang tinggi seperti Laura Danker, gadis paling cantik di kelasnya. Juga saat dia naksir dengan Moose, pemotong rumput di halaman rumahnya.

Seperti layaknya ABG, Margaret juga memiliki geng beranggotakan 4 orang yaitu dia, Nancy, Janie dan Gretchen. Geng ini juga yang membantu Margaret mengerti bagaimana tumbuh menjadi seorang remaja, karena disini mereka bertukar cerita tentang segala hal, mulai dari membeli bra, membeli pembalut, hingga dalam hal membuat daftar orang yang mereka taksir.
Karakter anggota geng ini juga berbeda-beda. Nancy digambarkan sebagai seorang yang senang memimpin, tahu segala hal dibandingkan teman-temannya, tetapi dia terkadang berbohong supaya terlihat hebat dihadapan teman-temannya. Oleh karena itu, Nancy dianggap sebagai pemimpin di geng mereka, PTS, Pre Teen Sensation.

Di Novel ini juga digambarkan bagaimana Margaret dan teman-temannya mulai tertarik pada pria disekitarnya. Mereka sepakat membuat list pria yang menarik, menurut mereka, yang harus di update setiap minggu dan dilaporkan dalam pertemuan mingguan PTS. Margaret menemukan bahwa Phillip Leroy selalu berada di urutan pertama pada daftar pria yang disukai-minggu ini, pada daftar yang dibuat oleh Nancy, Janie dan Gretchen. Margaret juga menulis nama Philip pada daftarnya. Bedanya, Margaret menulis ini karena dia tidak ingin jujur bahwa dia sebenarnya naksir Moose, anak laki-laki yang membantu memotong rumput di rumahnya, yang dianggap anak nakal oleh teman-temannya. Oleh karena itu, Margaret jadi berpikir jangan-jangan Nancy, Gretchen, dan Janie pun sebenarnya tidak naksir Phillip, tapi hanya ingin dianggap keren, karena Phillip memang pantas untuk ditaksir.

Dalam novel ini, banyak hal-hal yang bisa membuat saya tertawa geli. Judy Blume benar-benar bisa menggambarkan sosok Margaret sebagai remaja yang sedang tumbuh, yang terkadang pikirannya berbeda dari pikiran orang dewasa. Sewaktu diminta mengisi formulir perkenalan dengan guru barunya di kelas, Mr. Bennedict, Margaret menulis sesuatu diluar dugaan. Saat diminta mengisi " I think a male teacher.....", Margaret seharusnya menulis kesannya tentang guru laki-laki. Tetapi Margaret mengisi dengan jawaban yang simpel "I think a male teacher is opposite a female teacher". Benar juga sih.......

Juga digambarkan bagaimana malunya Margaret dan Janie saat pertama mencoba membeli pembalut wanita di toko, dan kasirnya adalah seorang pria. Judy Blume menggambarkan dengan detail bagaimana paniknya mereka, sehingga akhirnya Janie membatalkan niatnya membeli pembalut wanita. Padahal bagi seorang kasir pria, setiap harinya dia menghadapi ratusan pelanggan yang membeli pembalut wanita. Dengan pembalut wanita yang dibelinya ini Margaret belajar bagaimana cara memakainya, meskipun dia belum mengalami menstruasi. Dari hasilgoogling, memang pembalut wanita yang dipasarkan sekitar tahun 70an itu berbeda dengan pembalut wanita saat ini. Pembalut wanita versi lama menggunakan semacam belt/ikat pinggang, untuk menjaga pembalut tetap pada posisinya saat digunakan. Saat itu mungkin belum ada pembalut wanita yang berperekat seperti saat ini, yang lebih mudah untuk digunakan dan simpel.















Sanitary Belt, yang digunakan bersama pembalut wanita. Versi ini yang ada sekitar tahun1970an, saat Judy Blume menulis novel "Are you there, God? It's me Margaret"


Margaret sebenarnya merupakan sosok yang religius, hanya dia belum bisa menentukan pilihan yang terbaik baginya. Digambarkan dalam novel ini bahwa Margaret setiap hari berdialog dengan Tuhan, tentang segala keinginannya. Margaret juga yakin, bahwa jika dia meminta pada Tuhan, pasti akan dikabulkan. Saat ayahnya terluka akibat mesin pemotong rumput, Margaret berdoa agar keadaan ayahnya tidak bertambah memburuk. Termasuk saat dia meminta agar segera mendapatkan menstruasi, supaya tidak kalah dengan teman-teman satu geng-nya. Margaret semakin yakin bahwa Tuhan selalu mengabulkan permintaannya, setelah pada akhirnya dia mendapatkan menstruasi pertamanya setelah ulang tahunnya yang keduabelas. Margaret merasa senang karena dia tidak tertinggal dibandingkan Gretchen dan Nancy, yang sudah lebih dulu mendapatkan menstruasi pertamanya.

Novel ini memang sangat menghibur dan bagus juga dibaca oleh para remaja dan dewasa. Sampai saat ini, saya sangat terkesan sekali dengan cerita Margaret ini. Menurut saya, novel ini sangat menggambarkan bagaimana perasaan dan perkembangan seorang anak remaja, baik dari segi psikis dan psikologis. Selain itu, novel ini juga menggambarkan bagaimana kebimbangan seorang anak remaja yang tidak memiliki pegangan agama tertentu. Masukan yang bagus untuk para orangtua, supaya mendidik anak-anaknya dengan pondasi agama yang kuat sehingga anak-anak tidak menjadi bimbang dan ragu terhadap keberadaan Sang Pencipta.

*There a lots of things about growing up that are hard to be honest about, even with your best friends*

Saturday, June 28, 2008

Sihir Perempuan


Kumpulan Cerpen

Penulis: Intan Paramaditha

Penerbit: Kata Kita


Buku ini berisi 11 cerpen yang menceritakan perempuan dari sisi mistis. Jadi semua cerpen dalam buku ini berkaitan dengan hantu, darah, kegelapan, vampir dan pembunuhan. Jangan khawatir, gaya penceritaan di cerpen-cerpen ini bukan seperti gaya penceritaan sinetron mistis religi yang sekarang banyak di tayangkan di tv, jadi tetap asyik untuk dibaca.

Ada beberapa cerita yang menurut saya berkesan pada kumpulan cerpen ini. Misalnya pada cerpen “Perempuan Buta tanpa Ibu Jari”. Cerita ini menghadirkan tokoh utama “Sindelarat”. Kisahnya memang mengadopsi dari cerita Cinderella yang sudah sering kita baca. Tapi penyelesaian cerita pada cerpen ini bukan seperti biasanya dan yang pasti melibatkan banyak darah.


Ada juga cerita tentang boneka porselen dalam “Sejak Porselen Berpipi Merah itu Pecah”. Cerita dalam cerpen ini mengingatkan saya pada cerita prajurit berkaki satu dan penari balet yang ada di kumpulan cerita HC Andersen. Penari balet digambarkan oleh boneka porselen. Boneka porselen ini justru tidak mau disandingkan dengan pengantinnya, boneka porselen Yin Yin lebih suka berada dalam peti yang gelap, karena dia suka kegelapan dan ingin bertemu kekasihnya dalam kegelapan yaitu setan (Huiiiii….sereeeem ‘kan…..

Cerita yang paling berkesan menurut saya adalah “Darah”. Yang membuat saya terkesan dengan cerita ini adalah mitos tentang adanya hantu perempuan pemakan darah. Saya pertama kali mendengar mitos itu saat saya SMP. Saat itu saya benar-benar percaya dengan cerita itu dan membuat saya jadi hati-hati berurusan dengan darah. Ternyata penulis cerpen ini juga punya cerita dengan mitos itu. Apa memang mitos itu selalu diceritakan pada setiap anak perempuan? Dan apakah mitos itu memang benar adanya?

Buku ini saya temukan September lalu di Palasari. Dilihat dari cover-nya, buku ini didominasi warna gelap, kesannya sudah serem. Begitu saya membuka plastik pembungkusnya, kesan seremnya jadi bertambah. Kertas buku ini ternyata kertas buram dengan bau kertas yang menurut saya bisa menambah kesan seram. Untuk membuktikannya, silahkan baca sendiri buku ini. Pesan saya, jangan baca buku ini pada waktu anda sedang sendirian di rumah………………


My theory is that people who don’t like mystery stories are anarchist”(Rex Stout)

Rico de Coro



Judul Buku : Filosofi Kopi Penulis : Dewi Lestari Penerbit : Gagas Media
Posting friendster blog: July 23, 2006

Dari semua kumpulan cepen dan prosa di buku filosofi kopi, cerpen tentang ‘Rico de Coro’ inilah yang menurut saya paling OKE banget. Dee sangat dapat merangkai semuanya sehingga pembaca menganggap bahwa kerajaan kecoak itu ada dan berdampingan hidup dengan manusia.

Rico de Coro adalah seorang pangeran kecoak dari kerajaan kecoak yang menganggap diri mereka berbeda dengan kecoak got atau kecoak WC. Ibu Rico de Coro telah meninggal disemprot dengan baygon sesaat setelah dia meletakkan telurnya yang berisi Rico de Coro di bawah meja.

Bapak Rico de Coro yang bernama Hunter (Raja Kecoak) merasa bahwa mereka adalah kecoak yang berwawasan luas dan kuat. Hunter beranggapan demikian karena Hunter sendiri dibesarkan dibalik kotak TV yang dimiki keluarga Haryanto sehingga Hunter mengetahui perkembangan di luar sana. Rico de Coro jatuh hati pada Sarah, putri bungsu keluarga Haryanto. Menurut Rico, Sarah hampir tidak pernah mengusiknya dan bangsanya, karena saat melihat kecoak dari jarak 5 meter, sarah pasti sudah lari terbirit-birit. Berbeda dengan Tante, Oom Haryanto, Natalia, David dan pembantu di rumah itu yang selalu mengusik para kecoak dengan semprotan baygon.

Bahkan Rico de Coro pada akhirnya merelakan nyawanya untuk melindungi Sarah dari sengatan Tuan Absurdo, mutan kecoak hasil percobaan laboratorium yang dibawa Natalia dari sekolahnya. Tuan Absurdo pun akhirnya mati setelah mengeluarkan racunnya yang sebenarnya di peruntukkan bagi David. Saat Rico masih dalam keadaan lemas akibat terkena sengatan Tuan Absurdo, harus merelakan tubuhnya hancur dan mengeluarkan cairan setelah dipukul berkali-kali oleh David menggunakan sandal karet. Tapi Rico de Coro tetap membawa cintanya untuk Sarah, putri keluarga Haryanto.

Membaca cerpen itu saya jadi ingat waktu saya kecil. Dulu saya memiliki kucing bernama Betty. Saat itu saya juga beranggapan bahwa kucing juga memiliki kehidupan seperti manusia, mereka juga punya perasaan, termasuk ketika Betty punya anak dan harus menyelamatkan anak-anaknya dari terkaman suaminya yang saya beri nama Bartom. Kisah yang saya buat sendiri itu saya ceritakan kepada orang-orang di rumah termasuk kepada adik saya yang saat itu belum mengerti apa-apa. Saat saya SMA dan tidak terlalu memikirkan tentang kisah-kisah hewan di sekitar saya, ternyata adik saya punya hobi yang sama dengan saya. Adik saya menganggap cicak yang ada di kamar mandi kami (dia beri nama cicak itu Henry), memiliki kisah tersendiri. Menurutnya, Henry adalah cicak yang berbeda sifatnya dari cicak kebanyakan (lebih pintar) dan Henry juga punya perasaan. Mungkin cerpen Dee tentang Rico de Coro ini juga merupakan khayalan Dee waktu kecil tentang kecoak-kecoak yang memang hidup berdampingan dengan manusia.

Untuk cerpen dan prosa lainnya pada buku Filosofi Kopi (134 halaman) memang lumayan bagus sih (baca sendiri ya…..). Tapi memang cerpen Rico de Coro ini menurut saya tetap yang terbaik pada buku itu.

Clinical Pharmacokinetics: Pocket Reference

Editor: John E Murphy, Pharm.D
American Society of Health System Pharmacists, 2005.
Posting friendster blog : June 20, 2006

Buku ini sangat membantu untuk panduan monitoring penggunaan obat sehingga sangat berguna untuk dibaca oleh teman-teman farmasis maupun non farmasis. Meskipun farmasi terbagi dalam berbagai bidang (tehnologi, kimia farmasi, mikrobiologi, fitokimia, clinical dll) pada dasarnya tujuan akhirnya adalah untuk keberhasilan terapi dan menekan biaya pengobatan sehingga dapat meningkatkan ‘quality of life” dari pasien (masih ingat prinsip ini ‘kan?...). Untuk teman-teman non farmasi perlu juga membaca buku ini, karena di buku ini anda dapat mengetahui apakah terapi yang anda dapatkan sudah cukup rasional baik dari segi jenis obat dan penyesuaian dosis pada setiap individu yang berbeda, karena sering dijumpai beberapa kasus terapi yang tidak rasional karena tidak disesuaikan dengan kondisi pasien. Pasien biasanya tidak banyak yang tahu dan ini memang disengaja oleh pihak medis yang merawatnya, jadi kalo anda mendapatkan terapi yang tidak rasional , mari tuntut hak anda agar mendapatkan terapi yang baik.

Pada bab awal buku ini memberikan review singkat tentang nasib obat dalam tubuh secara umum, termasuk dengan faktor-faktor yang sangat mempengaruhi disposisi obat dari dalam tubuh seperti volume distribusi, ikatan obat dengan protein, metabolisme dan interaksi obat. Pada buku ini juga dijelaskan cara penyesuaian dosis obat untuk keadaan-keadaan tertentu misalnya gagal ginjal, sirosis hati, pasien anak-anak dan manula dll. Penjelasan yang diberikan hanya singkat sekali karena sifatnya hanya review, tetapi cukup mencakup faktor-faktor apa saja yang harus diperhatikan dalam “dosage adjustment”. Penjelasan untuk tiap-tiap obat dibagi dalam tiap bab tersendiri.

Obat yang tercakup dalam buku ini cukup lengkap, mulai dari obat yang sudah kita kenal cukup lama sampai obat yang “lumayan baru” (baru untuk 10 th yang lalu he3x, alias gak baru banget) seperti tacrolimus, sirolimus sudah ada penjelasannya dibuku ini. Penjelasan untuk tiap obat mencakup absorpsi, distribusi, metabolisme, ekresi, dan interaksi obat. Dengan adanya penjelasan mengenai nasib obat dalam tubuh pada buku ini, setidaknya kita bisa memperkirakan sistem penghantaran obat yang tepat agar terapi obat tersebut menjadi efektif dan efisien (sangat membantu bagi teman2 farmasis).

Sayangnya, meskipun judul bukunya “Pocket Reference” ternyata ukurannya bukan pocket (ukurannya ½ halaman A4) dan tebalnya 509 halaman (kira2 pocket-nya harus sebesar apa ya….) jadi lumayan berat juga untuk dibawa-bawa. Kekurangan lainnya, mungkin bahasa yang digunakan kurang begitu ‘gaul’ untuk dibaca oleh teman-teman yang non farmasis, jadi mungkin tidak menarik untuk dibaca jika bukan farmasis. Sebenarnya buku seperti ini harus dibuat lebih gaul agar masyarakat umum tahu lebih banyak tentang terapi obat dan agar pasien lebih tahu tentang terapi yang didapatkannya. Untuk mewujudkan hal ini, ada yang mau membantu saya…………………???