Showing posts with label Miscellaneous. Show all posts
Showing posts with label Miscellaneous. Show all posts

Thursday, January 30, 2014

Tulisan-Tulisan Thesis

Bicara tentang PhD, pasti ujung-ujungnya bicara tentang thesis. Sepertinya memang bagian ini yang paling berat dalam rangkaian program Ph.D. Tepatnya mungkin bukan "sepertinya" tapi memang benar-benar berat. Pertama, berat dari segi kontent atau isi dimana hasil riset selama 3 tahun harus bisa ditulis secara runtut, jelas dan menampilkan suatu hal yang "novel" bagi bidang ilimu kita. Yang kedua, berat dari segi diri sendiri, yaitu berjuang untuk melawan kemalasan dalam menulis. Alasan terakhir ini yang bagi saya paling berat dibandingkan yang pertama. Kenapa berat, karena jujur saja, rata-rata PhD student cenderung untuk "procrastinate" dalam menyelesaikan thesis. 

Tetapi sesuai dengan hukum pertama dari Newton's Three Law of Graduation versi PhD Comics, ada "external force" yang harus dikenakan pada seorang student agar tidak procrastinate terus menerus. Bagi saya, external force itu adalah berakhirnya beasiswa dari sponsor. Sponsor saya hanya memberikan perpanjangan beasiswa maksimal 6 bulan sejak berakhirnya tahun ketiga dari PhD program. Dengan kata lain, jika dalam waktu 6 bulan sejak perpanjangan saya belum menyelesaikan thesis, resiko ditanggung sendiri, alias siap-siap pakai uang pribadi. Mengingat biaya hidup di UK yang lumayan tinggi dan tidak akan bisa tercukupi dengan mengandalkan gaji pokok dosen di Indonesia, sepertinya ini yang menjadi "external force" bagi saya untuk segera menyelesaikan tesis.

Tiga bulan sebelum masa 3 tahun PhD berakhir, saya sudah ancang-ancang untuk mempersiapkan mental memasuki masa writing-up. Salah satunya dengan mengikuti kursus "Finishing Your Thesis" yang diadakan oleh Graduate School di universitas tempat saya belajar. Sebenarnya bukan kursus sih, lebih tepatnya sharing pengalaman dengan sesama final year PhD student dan alumni yang baru saja menyelesaikan PhD nya. Salah satu yang saya dapatkan dalam kursus ini adalah mulai menentukan timeline dari sisa waktu yang tersedia. Timeline ini tentulah customize, menurut kepentingan masing-masing. Saya sendiri menetapkan batas akhir saya berada di UK adalah bulan Maret 2013, mengingat pada bulan itu juga beasiswa saya akan berakhir. Dari sini, mulai dibuat sub-sub rencana yang akan kita kerjakan, mulai dari kapan mulai menulis, target berapa bab yang harus tertulis selama 1 bulan, termasuk menentukan kapan harus submit dan menempuh ujian. 

Di University of Nottingham, tempat saya belajar, ada beberapa persyaratan administrasi yang harus dipenuhi saat mulai memasuki tahap writing-up thesis. Salah satunya adalah "Notification to Submit Thesis", semacam form yang harus diisi dan ditandatangi oleh supervisor dan di submit ke akademik. Form ini harus disubmit ke bagian akademik sekurang-kurangnya 2 bulan sebelum thesis di submit, karena ini akan berkaitan dengan penentuan penguji, pengiriman thesis dan administrasi lainnya. Selain itu, fasilitator kursus juga mengingatkan bahwa ada kemungkinan jeda waktu yang cukup lama, maksimal 3 bulan, sejak submit thesis hingga dilakukannya ujian thesis atau viva voce examination. Oleh karena itu, fasilitator berharap kami "aware" dengan hal tersebut, terutama yang beasiswanya segera berakhir, seperti saya.

Okay deh, timeline mulai disusun. Januari 2013 adalah target submission thesis untuk saya, sehingga selambat-lambatnya akhir November 2012 saya sudah harus mensubmit form "Notification to Submit Thesis". Supervisor pun setuju dengan rencana saya, dan hanya menandai di kalendernya sambil mengatakan bahwa deadline ini saya yang buat, bukan dia, jadi saya yang harus konsekuen dengan deadline ini. Dia pun menjanjikan bahwa dalam 1 bulan setelah submit, saya akan viva, sehingga saya masih punya waktu untuk koreksi thesis sebelum besiswa saya berakhir di bulan Maret 2013.  Siap pak..!

Tapi sekali lagi, kendali menulis tesis itu memang ada pada diri kita sendiri. Berat sekali memang, belum lagi pas kena serangan procrastination. Supervisor juga menyarankan saya untuk membuat target pribadi, berapa kata yang harus ditulis dalam 1 hari. Untuk awalan, dia menyarankan 500 kata per hari sudah cukup. Mungkin dia paham kesulitan non-native seperti saya untuk menulis dalam bahasa Inggris.

Untungnya, procrastination saya membawa sedikit keberkahan. Saat buka-buka youtube, eh ketemu video Three-Month Thesis  dari James Hayton. Menonton ini, kok saya jadi senyum-senyum sendiri ya, karena ternyata yang saya alami juga dialami hampir seluruh final year students. Persis banget. Bangun pagi, siap menulis, cek e-mail dulu, cek fesbuk, cari videoklip lagu terbaru di youtube, buka situs berita, dan siklus ini berulang lagi, sampai akhirnya sore hari. Akhirnya, 1 hari terlewati tanpa menghasilkan sesuatu. Eh, bagi saya kadang menghasilkan juga ding, menghasilkan lumpia, siomay atau bakso ayam yang siap di simpan di freezer :).

Akibat menemukan video Three-month thesis di Youtube, menghantarkan saya ke Blog James Hayton. Banyak sekali ketemu tips-tips dari Mas James untuk cara cepat menulis tesis. Salah satunya adalah menghindari procrastination. Bagaimana caranya? Di blog itu dijelaskan beberapa tipsnya.

Salah satunya yang saya aplikasikan adalah dengan membagi waktu berdasarkan satuan unit. Tentunya bisa disesuaikan dengan keadaan kita masing-masing. Saya sendiri mencoba mengambil satu unit setara dengan 30 menit. Dalam 30 menit tersebut, 20 menit saya fokuskan untuk menulis tesis, sebisanya atau sedapatnya, tanpa membuka facebook, e-mail, atau mengerjakan yang lain. Nah, 10 menit sisanya saya pakai untuk acara bebas, bisa untuk bikin kopi, cek facebook atau yang lain. Oh ya, satu lagi yang saya terapkan dari tipsnya Mas James adalah tidak men-cek e-mail terus menerus. Cek e-mail bisa dikerjakan tiap 2 jam sekali. Pertama sih saya pakai periode 2 jam sekali, sebagai pelampiasan malas berpikir untuk menulis. Tapi, lama-kelamaan saya bisa mematuhi jadwal mengecek e-mail yang saya buat sendiri yaitu pada waktu makan siang dan jam 5 sore. Untuk tips lengkapnya, bisa dilihat pada blognya James saja ya.

Untungnya, tips ini bekerja untuk saya. Pada akhirnya saya bisa tahan menulis 2 jam nonstop, tanpa procrastinate. Tapi mungkin ini juga ada pengaruh "external force" ya , karena waktu berjalan semakin mendekati deadline yang saya buat sendiri. Saran dari James, yang menurut saya lumayan ekstrim adalah memutus koneksi internet alias sama sekali tanpa koneksi internet, untuk menjaga fokus pada menulis. Bagi saya, tips membagi 20+10 menit tiap satuan unit, sudah cukup pas bagi saya. James sendiri di blognya menyarankan "25+5" menit sebagai 1 satuan unit waktu menulis. Jadi selama menulis, koneksi internet dan online facebook tetap berlaku bagi saya dengan memperhatikan "syarat dan ketentuan" yang saya buat sendiri. 

Begitu menemukan kondisi yang tepat dalam menulis, dalam 1 hari dihitung-hitung saya bisa menghasilkan lebih dari 500 kata. Dari pengalaman, 1 chapter bisa saya selesaikan dalam 2 minggu. Mungkin termasuk lambat, tapi not bad lah. Teman saya, British asli, bahkan bisa menyelesaikan a whole thesis dalam 1 bulan. Hehehe...beda standar ya....:)

Tahun  baru saya habiskan dengan menulis dan menulis, sampai tidak bisa tidur. Benar sekali, tidak bisa tidur, bukan mengantuk. Saya bisa menulis nonstop tanpa tidur dan tanpa bantuan kopi. Tapi saya sadar ini tidak baik untuk kesehatan fisik dan mental, sehingga malam hari saya berusaha mematuhi jadwal untuk tidur meskipun juga tidak bisa tidur pulas. Akhirnya, awal tahun baru, whole thesis, 60,000 kata siap disetor ke supervisor untuk dikoreksi. Sudah pernah saya ceritakan juga tentang hal ini disini.

Jadi, meskipun "just thesis" (ini kata supervisor saya), ternyata perlu perjuangan juga. Dan yang paling berat adalah perjuangan "menata diri sendiri" untuk siap dan mau menulis thesis dan yang jelas, menulis thesis itu "painful". Kenapa harus berlama-lama merasakan "painful", jadi pakai saja target James dengan Three-month thesisnya.


Satu hal yang paling penting adalah kesadaran diri untuk menyelesaikan thesis. Semua tips cara cepat menulis thesis tidak akan berguna tanpa keinginan dan konsistensi dari diri sendiri untuk segera menyelesaikan thesis. Yang jelas, jika thesis sudah selesai, tidur akan lebih nyenyak...:)


Selamat tahun baru Imlek

Sunday, December 15, 2013

Kilas Jalan Menuju PhD

Woww...time flies fast, tanpa terasa sudah 1.5 tahun blog ini sudah tidak pernah di-up-dating. Padahal, dulu saya bertekad minimal 1 bulan sekali mampu membuat catatan-catatan kecil, tentang semua hal, baik yang bermutu dan tidak bermutu. Tapi apa daya, tangan tak sampai untuk membuat tulisan kecil, yang tidak mutu sekalipun.

Catatan terakhir ternyata saya buat ketika hari ulang tahun saya di tahun 2102. Setelah itu, sepertinya menulis thesis lebih menjadi prioritas. Sering merasa bersalah jika menulis sesuatu yang tidak bermutu, sedangkan tulisan thesis masih "kleleran". Dulu...dulu...nih, saat genting-gentingnya menulis thesis, saya sempat berjanji akan kembali lagi ke blog ini kalo sudah submit. Nyatanya, akhir Januari 2013 thesis disubmit, tapi blog tidak di up-date juga. Jadi, saya berbohong kepada diri sendiri :P.

Saat ini, saya merasa sudah bisa deal dengan kerjaan baru yang sebenarnya tidak baru ini, setelah hampir 3.5 tahun cuti untuk jadi student di UK. Jadi, sejak Mei 2013 resmi berstatus bukan student, baru malam ini saya merasa legaaa banget, dan bisa up-date blog ini.

Kali ini, pengin sekali cerita kilas balik stage waktu jadi PhD student. Mumpung lagi in the mood untuk menulis tentang pengalaman jadi PhD student dan juga ingin berbagi cerita bahwa sekolah di luar negeri itu tidak selamanya enak, tapi juga tidak selamanya tidak-enak. Bisa dikatakan naik-turunlah, kadang senang, galau, sedih dan kangeennn rumah. Apa saja sih yag dialami oleh PhD student? Dimana senangnya, dimana susahnya, dimana galau-nya? 

1. Tahun Pertama

Tahun pertama sebagai student, bisa saya bagi menjadi 3 bagian. Tiga bulan pertama, sebagai seorang yang baru pertama kali merasakan sekolah di luar Indonesia, jelaslah senang. Bangga juga ding...karena bisa menyabet slot beasiswa yang belum tentu semua orang bisa mendapatkannya. Sebagai orang "ndeso" tentulah saya kagum sekali dengan semua keteraturan dan fasilitas yang baik di UK, yang tentunya jauuhhh sekali jika dibandingkan dengan di Indonesia. Dunia kampus pun menjanjikan fasilitas belajar yang baik, akses perpustakaan 24 jam, short-courses yang menarik dan lainnya.

Puluhan foto pun ter-upload lewat media facebook, menggambarkan rasa exciting terhadap dunia baru ini. Indah....dan yang jelas berbeda dari negara sendiri. Selain itu, hobi jalan-jalan saya juga terfasilitasi dengan bergabung dalam Postgraduate Students Association (PGSA) yang secara rutin menawarkan trip keliling UK, minimal 1 bulan sekali. Untuk urusan belanja, ukuran pakaian big-size selalu tersedia untuk saya, apapun modelnya, dan ini sulit saya dapatkan di Indonesia. 

Diatas adalah bagian yang menyenangkan. Adakah bagian yang tidak menyenangkan? Mencoba memahami riset/ project yang diberikan bukan hal yang mudah bagi saya. Apalagi itu menyangkut hal yang saya hindari di masa lalu, yaitu chemical synthesis. Rasa galau juga mulai menjangkiti, karena iklim bekerja yang berbeda dengan sebelumnya. Budaya jelas berbeda, yang pada beberapa titik belum saya terima sepenuhnya. Sehingga kadang ada perasaan merasa sendiri. Apalagi saat itu sudah mulai mendekati musim dingin, yang gloomy, dan sering membawa mood menuju kemurungan dan sedih.

Tiga bulan kedua, foto dan update status di facebook tentang indahnya negara baru ini mulai berkurang. Berkurang karena memang tidak ada waktu. Pekerjaan di lab mulai mengalir, membuat report (yang harus dikerjakan setiap menyelesaikan satu reaksi), membuat literature review, dan harus memahami mekanisme reaksi yang dulunya sangat asing bagi saya. Benar-benar menempatkan saya under pressure saat itu. Sehingga, hari Jum'at merupakan hari yang paling saya tunggu saat itu, karena keesokan harinya weekend dan saya bisa istirahat dan membuka facebook dan update status juga foto :D. Sabtu menjadi hari belanja dan santai bagi saya, dan Minggu saya memilih untuk tidak keluar rumah jika tidak terpaksa, untuk menyiapkan fisik dan mental di hari Senin...cieeee......

Untungnya, 3 bulan kedua ini meskipun saya bekerja di chemistry yang pressure nya cukup tinggi, ada hal yang membuat saya kuat menghadapi tekanan ini. Lab-mates yang menyenangkan, yang selalu siap membantu, termasuk menerjemahkan interpretasi spectrum H-NMR yang bagi saya terlihat serupa jarum yang ruwet :D. Meskipun kami semua berada dibawah tekanan reaksi kimia, tapi saat lunch menjadi saat yang menyenangkan untuk tertawa bersama. Topik yang ditertawakan? Banyak hal, mulai dari menghitung berapa kali supervisor mencuci tangan di lab dalam sehari sebagai alasan untuk mengawasi student-nya hingga menertawakan riset kami yang kadang sulit sekali untuk dibayangkan kapan selesainya. Ternyata bukan hanya saya yang merasakan ruwetnya riset, yang lain juga merasakan hal yang sama. Jadi tertawa bersamalah kita, menertawakan diri kita masing-masing kenapa mau menjadi PhD Student. Satu lagi kebaikan mereka, meskipun teman dan post doc di chemistry lab ini laki-laki semua, tapi mereka tidak pernah melupakan untuk mengajak saya keluar sekedar makan bersama jika ada yang ultah atau Sunday lunch

Oh iya, 3 bulan kedua ini saya juga mulai mengenal PhD comics (http://www.phdcomics.com/comics), yang banyak sesuainya dengan kehidupan sebagai student, yang kadang pahit tapi lucu untuk ditertawakan.

Tiga bulan ketiga, lab work saya berpindah ke Drug Delivery lab. Di tempat ini, teman baru juga saya dapatkan, mulai dari kakak kelas yang suka curhat hingga kakak kelas yang suka tebar pesona:P. Secara kehidupan akademik, saya sudah mulai nyaman dengan riset yang saya kerjakan, tidak merasa dibawah tekanan lagi. Mungkin karena saya sudah semakin paham apa yang harus dikerjakan. Menulis report-pun semakin lancar untuk dibuat, karena saya sudah tahu bentuk report seperti apa yang diinginkan oleh ketiga supervisor saya. Kehidupan non-akademik juga semakin nyaman, karena semakin banyak teman hang-out dan teman tempat bercerita. Saya juga banyak bertemu dengan teman-teman baru dari beragam negara, yang sama sponsor beasiswanya,  dan kami sepakat untuk mendirikan asosiasi dengan pertemuan terjadwal setiap dua bulan sekali.

Tapi, tetap ada satu hal yang membuat saya cemas yaitu first-year report. Setelah 9 bulan, saya harus men-submit report ke school dan nantinya akan direview oleh internal assessor. Selain itu, saya juga harus melewati first-year viva, yang akan menentukan apakah saya layak untuk menjadi candidate PhD dan berhak melanjutkan riset tahun kedua. Alhamdulillah, dukungan supervisor saat itu sangat membantu. Mereka mengingatkan saya bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan sepanjang saya tahu apa yang sudah dan yang akan saya kerjakan. Mereka juga memilihkan untuk saya internal assessor yang baik, tetapi capable secara akademik untuk mereview hasil kerja saya selama 9 bulan.

Diakhir bulan ke 10 sejak menjadi student, saya dinyatakan berhak menjadi PhD candidate dan melanjutkan riset tahun kedua. Well, meskipun untuk mencapai itu juga tidak mudah. Satu jam diskusi terhabiskan antara saya dengan internal assessor, untuk mendiskusikan mekanisme sintesis yang saya kerjakan, termasuk analisisnya. Sssttt...selesai ujian tersebut, saya baru menyadari bahwa internal assessor saya sebenarnya baik, dan ini tidak pernah saya terbayangkan sebelumnya. Saya bahkan pernah meminta ganti internal assessor kepada supervisor hanya karena masalah sepele, yaitu internal assesor saya tidak pernah tersenyum atau menyapa jika berpapasan dengan orang lain. Hal yang sangat jarang terjadi di British, dimana setiap orang yang berpapasan selalu saling menyapa, say Hi..., Hiya...atau apalah, yang penting menyapa. Tapi, supervisor saya meyakinkan bahwa memang tidak ada akademisi yang sempurna, yang bisa menjadi reviewer riset saya. Jadi, untuk saat ini, dialah yang terbaik. Selesai ujian, baru saya menyadari bahwa memang internal assessor saya baik, cerdas dan memberikan masukan yang cukup banyak. Dan juga, saya baru menyadari bahwa dia ternyata bisa tersenyum ramah, dan cakep ...^-^.

2. Tahun Kedua

Akhir tahun pertama saya habiskan untuk pulang liburan ke Indonesia. Kebetulan saat itu bertepatan dengan puasa dan lebaran. Ijin dengan supervisor pun mudah didapat, karena dia juga mau liburan :D.


Awal Oktober 2010 saya kembali ke UK. Saat kembali ini, ada perasaan berat untuk meninggalkan Indonesia, karena saya masih ingin liburan...!!! Tapi disatu sisi saya juga merasa cemas, karena liburan yang terlalu lama akan menyita waktu untuk melakukan penelitian. Terus terang, ketika pulang dari liburan ini, saya bingung harus memulai dari mana untuk riset tahun kedua ini. Alhasil, 1 minggu pertama terbuang percuma hanya karena galau mau dibawa kemana riset ini. Untunglah, memang iklim akademik itu sudah dirancang sedemikian rupa sehingga bisa dijalani dengan mudah. Jika ada student galau tentang riset, supervisor siap membimbing supaya riset tetap terarah pada tujuan :D.


Riset tahun kedua semakin mudah untuk dibayangkan tetapi susah untuk dijalani. Semakin mudah, karena saya sudah tahu apa saja yang harus saya kerjakan untuk mencapai tujuan penelitian. Susah untuk dijalani, karena kadang hasil percobaan tidak sesuai yang diharapkan, sehingga perlu adjusment kondisi disana sini, supaya didapatkan hasil seperti yang diharapkan. 

Ditahun kedua ini, rasanya sudah semakin jarang galau, karena memang tidak ada waktu untuk menjadi galau...!!! Sebagai second-year student, tanggung jawab di lab pun semakin besar. Mulai dari harus men-training cara kerja penelitian ke 1st-year students hingga membimbing tugas akhir mahasiswa undergraduate. Belum lagi harus mengerjakan lab-work milik sendiri. Waktu pun semakin cepat berlari karena dikejar. Belum lagi e-mail bertubi-tubi dari supervisor, untuk memberikan instruksi membimbing project kepada students, termasuk e-mail di saat weekend (hal yang sangat jarang dilakukan oleh supervisor, jika tidak terpaksa). Giliran untuk memberi presentasi di group pun juga tiba. Prioritas memang diberikan kepada 2nd-year student untuk menampilkan progress riset yang dilakukan. Malangnya, karena supervisor saya berasal dari bagian yang berbeda di school of pharmacy, jadi saya harus mempresentasikan riset di bagian drug delivery & tissue engineering dan bagian medicinal chemistry.

Langkah saya akhirnya menginjak sembilan bulan tahun kedua. Rasa cemas mulai menghampiri karena saya merasa belum menghasilkan sesuatu yang bermakna dalam riset ini. Kekhawatiran juga menghinggapi apakah nanti masih berhak melanjutkan tahun ketiga? Untungnya, tampil presentasi bertubi-tubi di group yang berbeda berhasil mendongkrak rasa percaya diri bahwa riset yang saya lakukan layak disebut sebagai PhD research (hal yang sebelumnya saya ragukan :)).

Second-year viva bersama internal assessor yang sama dengan tahun pertama saya lewati dalam waktu 45 menit, eh, mungkin kurang, karena potong masa membuat kopi oleh internal assessor saya-kira-kira 10 menit dan 5 menit distraction dari seorang student yang tiba-tiba masuk ruangan asessor ketika saya sedang viva. Ada yang berbeda dari hasil assessment 2nd year viva dibandingkan 1st year viva. Tahun pertama, assessor saya menuliskan komentar terhadap hasil viva terlebih dahulu, lalu baru saya memberi tanggapan apakah saya setuju dengan tanggapan komentar tersebut. Tahun kedua, justru assessor meminta saya memberi komentar tentang pelaksanaan 2nd year viva, baru kemudian dia memberi komentar balik terhadap progress riset tahun kedua saya.

Sama dengan tahun pertama, saya menutup tahun kedua dengan ambil cuti pulang liburan ke Indonesia dengan membawa kelegaan bahwa masih berhak melanjutkan tahun ketiga.


3. Tahun Ketiga



Tahun ketiga saya awali dengan mengikuti kompetisi Biotechnology YES, semacam kompetisi khusus untuk PhD students atau post doc untuk menciptakan business plan untuk memasarkan produk bioteknologi yang kami rancang. Lumayan seru juga, dan bisa membangunkan kembali semangat setelah libur panjang.



Tahun ketiga ini, saya semakin paham apa yang harus dilakukan pada riset saya hingga tahun ketiga berakhir. Tapi ya begitu, semua hanya mudah untuk ditulis diatas kertas, tapi sukar untuk dikerjakan. Herannya, saya merasa lebih santai ditahun ketiga ini. Entah itu karena memang sudah lebih paham, atau memang saya sudah pasrah: apa yang akan terjadi terjadilah.



Termasuk ketika saya harus re-formulasi ulang untuk mikropartikel yang saya buat, sedangkan size, kompatibilitas dengan stem sel semua sudah oke. Ada burst release hingga hampir 50% diawal tahap pelepasan obat pada mikropartikel yang saya buat. Dikhawatirkan, burst release ini akan menyebabkan ketoksikan pada stem cell, karena hampir semua obat lepas pada tahap awal. Akhirnya, saya berkejaran dengan waktu, tiap hari, siang, malam, weekend, untuk merubah formulasi agar didapatkan release profile sesuai yang dikehendaki. Melelahkan memang, tapi saya merasa tidak begitu cemas, atau mungkin lebih tepatnya pasrah: apa yang akan terjadi terjadilah.



Empat bulan dari mulai tahun ketiga, thesis-plan sudah saya buat dan didiskusikan dengan supervisor. Supervisor-pun kelihatannya juga lebih santai (atau pasrah?), karena menurut dia thesis plan bisa saja berubah saat menulis thesis yang sebenarnya. Thesis plan juga saya submit ke internal assessor saya dan tidak ada komplain dari beliau mengenai thesis plan yang saya ajukan, atau beliau juga pasrah melihat hasil riset saya yang bagi dia tidak begitu sophisticated? Internal assessor saya adalah tetap orang yang sama sejak tahun pertama hingga final viva nanti. 



Di tahun ketiga ini juga frekuensi saya berpergian juga semakin meningkat. Mulai dari konferensi ke luar UK, hingga harus bolak-balik Nottingham-London untuk mengurus visa, visa untuk konferensi dan visa UK. Yap, diakhir tahun ketiga, ijin tinggal saya habis, sedangkan thesis belum selesai. Mau tak mau, suka tidak suka, saya akhirnya memperpanjang ijin tinggal di UK. Pengurusan visa UK ini justru membuat saya lebih tertekan dibandingkan mengerjakan lab work saya yang harus berakhir per-September 2012. Untungnya, dukungan surat rekomendasi dari sponsor dan supervisor, juga International Office tempat saya belajar bisa mengurangi tekanan yang saya rasakan saat pengurusan perpanjangan visa tersebut. Keputusan perpanjangan ijin tinggal saya peroleh Agustus 2012, dan saya berhak untuk tinggal di UK hingga 21 bulan kedepan, atau hingga studi saya selesai.



Pekerjaan di lab juga sudah terjadwal selesai awal September. Agustus 2012 saya mulai masuk tahap finishing lab work. Hanya tinggal melakukan immunostaining pada sampel yang saya dapatkan setelah menunggu sel tumbuh selama 28 hari....!!!. Pekerjaannya relatif mudah, hanya memakan banyak waktu. Ada satu hal yang sebenarnya kami, saya dan supervisor, rencanakan untuk dikerjakan. Tapi karena waktu tidak mencukupi, supervisor saya menganjurkan cukup sampai di tahap akhir itu. Ketika saya menanyakan, apakah tidak masalah saat ujian akhir/viva, supervisor saya bilang: "Research is never finish, so don't worry about your thesis". Okay deh Bapak........

Akhir September 2012, officially saya meninggalkan lab work dan masuk tahap thesis writing-up.


4. Tahap Penyelesaian



Untuk menulis thesis, sebenarnya saya sudah men-cicil untuk membuat background dan methodology sejak July 2012. Tapi ya itu, karena masih ada lab work yang harus saya kerjakan, hanya sedikit yang bisa saya dapatkan. Kadang dalam 1 hari saya hanya bisa menulis 1 paragraph. Parah ya.....

Terus terang kendala utama saya dalam menulis thesis adalah kendala bahasa, dan ini membuat waktu yang saya perlukan untuk menulis tidak bisa dibandingkan dengan lab-mates saya yang sebagian besar native-english. Tapi, sepertinya supervisor paham kok dengan kendala tersebut, jadi dia lebih sabar mengkoreksi tulisan saya.


Efektif menulis saya lakukan mulai Oktober 2012. Sebagai tempat menulis, saya memutuskan untuk dilakukandi rumah. Excited sekali rasanya, tidak harus bangun pagi dan berangkat ke kampus setiap hari. Ke kampus saya lakukan jika ada e-mail dari supervisor yang meminta saya datang dan mendiskusikan tulisan saya. Itupun biasanya mereka meminta diatas jam 4 sore. Yihaaa...senangnya, jadi saya bisa menulis, sambil ngemil, minum kopi dan membuat cemilan kapan saja saya mau.



Tapi eitsss...tunggu dulu, satu bulan menulis di rumah, saya kok merasa tidak ada progress pada penulisan thesis saya. Siang hari lebih sering saya habiskan untuk menge-cek e-mail masuk, menge-cek facebook, membuka situs berita, menyetel youtube, dan siklus ini akan terus berulang hingga sore hari. Menulis yang benar-benar menulis baru bisa saya lakukan malam hari. Inipun sering terkendala mengantuk dan akhirnya saya tinggal tidur. 



Akhir Oktober, saya melakukan evaluasi hasil kerja saya dan saya putuskan bahwa menulis di rumah adalah tidak efektif. Terlalu banyak distraction dan procrastination yang saya lakukan. Akhirnya, saya memaksa diri untuk kembali bangun pagi, berangkat ke kampus dan menulis hingga bosan. Langkah ini terlihat efektif karena saya cenderung bekerja hingga jam 8 malam tiap hari, pulang, dan lalu tinggal tidur. Cemilan, makanan? Saya membawanya, tapi juga saya batasi, supaya waktu tidak habis hanya untuk makan.



Kelihatannya cara ini memang match dengan gaya saya. Terbukti, awal tahun baru, first draft thesis, dari chapter 1-7 sudah siap dikirim ke supervisor. Supervisor pun ternyata ikut mendukung kecepatan (atau kelambatan?) saya dalam menulis. Dalam 3 hari, first draft tersebut selesai dikoreksi, berikut comments dan suggestions untuk tulisan saya. Tepat di akhir Januari, thesis akhirnya siap disubmit ke bagian akademik.



Selang 1 hari, e-mail dari supervisor masuk ke inbox menanyakan kesediaan saya untuk viva voce examination atau ujian akhir 2 bulan lagi. Agak lama memang, tapi eksternal assessor yang ditunjuk memang baru bisa datang untuk menguji saya 2 bulan lagi. Jadwal ujian mundur 1 bulan dari yang dijanjikan oleh supervisor. Dua bulan menunggu viva, saya gunakan untuk sedikit bersantai dengan mengunjungi teman-teman di seputar UK dan 3 minggu sebelum jadwal viva, saya mulai konsentrasi untuk mempersiapkan viva.



Bisa dikatakan tahap penyelesaian ini merupakan tahap yang paing berat dari PhD. Dulu...dulu ya...saya kira tahun pertama PhD adalah yang paling berat. Tapi ternyata, setelah mengalami semuanya, tahap menulis ini yang paling berat. Kenapa? karena harus berperang untuk melawan kemalasan diri sendiri. Di tahun pertama mana bisa malas, karena kalo tidak kelihatan 1 hari tanpa pamit, akan ada e-mail dari supervisor masuk ke inbox, entah sekedar menanyakan kabar atau perintah untuk melakukan ini-itu. Mana sempat untuk bermalas-malas  'kan? Pada tahap writing-up, kontrol dari supervisor hanya datang 1 bulan sekali, beda sekali 'kan kondisinya, sehingga kontrol pada tahap akhir PhD sepenuhnya ada di tangan saya.



Satu lagi yang agak berat pada tahap penyelesaian yaitu gampang menjadi galau. Entah karena tekanan menulis yang memang sulit atau kebetulan masa writing-up saya berada saat UK mulai memasuki winter atau musim dingin. Saya jadi lebih malas, bangun siang,dan sering tidak mood untuk menulis. Mungkin ini ya yang disebut winter gloom, yang katanya memang mempengaruhi mood. Tapi herannya, tahun sebelumnya kok saya tidak terjangkiti "virus" ini ya?


Semakin mendekati viva, galau di hati semakin menjadi-jadi. Belum lagi mendengar cerita teman-teman sesama PhD students yang (katanya) tidak sukses saat final viva. Aduh...rasanya saya pengin pulang saja ke Indonesia tanpa viva. Untungnya, dukungan orangtua di Indonesia dan teman-teman sekeliling saya begitu banyak, untuk tetap menguatkan kaki saya melangkah maju ke viva.

Tanggal 21 Maret 2013, adalah hari bersejarah untuk tahap PhD saya. Pada hari itu saya berjumpa dengan eksternal assessor yang baru saya kenal didampingi dengan internal assessor yang sudah saya kenal sejak ujian tahun pertama. Supervisor kedua saya melepas saya ke dalam ruang viva sambil meyakinkan, bahwa dalam 2 jam kedepan saya akan berhak menyandang gelar Doktor. Supervisor pertama saya mengirimkan surat permintaan maaf tidak bisa mengantar saya ke ruang viva di pagi hari, karena ada meeting di kota lain, tapi dia berjanji akan menyambut saya setelah selesai viva siang itu.

Dua jam di dalam ruangan, berdiskusi tentang thesis yang saya tulis, tidak begitu terasa. Apalagi, internal assessor saya berbaik hati untuk mebuatkan kopi atau mengambilkan air minum. Sesekali dia melempar joke, untuk membuat saya lebih relax, tapi kali ini joke dari dia tidak banyak membantu. Bantuan dari internal assessor justru saya rasakan ketika saya tidak bisa memahami apa yang ditanyakan oleh penguji. Internal assessor akan menjelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana sehingga saya bisa paham dan menjawab pertanyaan tersebut. Setelah 2 jam, saya akhirnya dikeluarkan dari ruangan. supervisor sudah menyambut saya di depan pintu. Kurang lebih 5 menit, tapi terasa 1 jam bagi saya, saya diminta masuk kembali dan dinyatakan lulus. Saat itu, badan rasanya ringan sekali, dan hanya satu yang ingin saya lakukan saat itu, yaitu pulang ke rumah dan tidur...:D. 

Sebenarnya tahap PhD ini belum sepenuhnya selesai, karena masih ada minor correction yang harus saya kerjakan. Satu hal yang membuat saya lega, internal assessor saya berjanji untuk cepat melakukan koreksi, jika saya pun cepat memasukkan hasil koreksi. Dalam waktu 2 minggu dari tanggal viva, internal assessor saya setuju dengan revisi yang saya buat dan surat tanda lulus dari PhD program akhirnya keluar dari bagian akademik. Ini juga mebuat langkah saya untuk pulang ke Indonesia semakin ringan. Satu bulan saya pergunakan untuk persiapan pulang ke tanah air, dan akhirnya tepat 1 Mei 2013, dinihari, kaki saya sudah menginjak tanah Indonesia kembali.


Ada beberapa hal yang ingin saya pesankan pada teman-teman, yang saat ini baru memulai langkah atau berencana mengambil PhD program. Bahwa kehidupan PhD itu banyak sekali warnanya, mulai dari warna bahagia, sedih, galau, takut, underpressure dan sebagainya. Warna tersebut akan berganti terus selama masa studi tanpa bisa kita duga, tinggal bagaimana kesiapan kita untuk menghadapi perubahan tersebut. Terkait dengan kehidupan akademik dan non-akademik yang nantinya akan mendukung akademik (halah...bingung ya :-o), point berikut mungkin perlu disadari oleh teman-teman:

1. Riset PhD adalah sepenuhnya riset kita, sehingga kita harus memahami betul tentang apa yang akan dikerjakan, dan bagaimana mencari solusi atas permasalahan tersebut. Jangan terlalu bergantung dengan supervisor. Ingat, teman-teman adalah PhD candidate, yang nantinya dapat mempertanggungjawabkan segala hal terkait riset, yang sudah dilakukan. Peran supervisor adalah membimbing dan mengarahkan agar riset tetap berada di jalur yang benar, berdasarkan pengalaman mereka. Jadi, kadang memang keputusan ada di tangan kita, untuk memilih jalur mana yang harus diambil untuk menyelesaikan riset.

2. Selalu konsisten dalam mengerjakan sesuatu. Apapun yang terjadi, komitmen untuk menyelesaikan riset di lab dan penulisan tesis tetap harus dijaga. Naik-turun mood itu biasa, tergantung bagaimana kita mengatasinya agar mood tetap terjaga baik. Menjaga jadwal untuk bangun, bersiap, berangkat ke kampus dan pulang dari kampus pada waktu yang sama sedikitnya bisa menjaga mood untuk tetap baik dan bersemangat mengerjakan riset.

3. Mulailah menetapkan cara bekerja yang paling nyaman dan jangan ragu untuk berubah kearah yang lebih baik. Setiap orang mempunyai style tersendiri dalam mengerjakan pekerjaannya. Ada yang lebih senang bekerja di pagi hari, ada yang lebih senang siang, bahkan malam hari. Pun ada yang suka ketenangan dalam mengerjakan, ada yang suka mendengarkan musik atau bahkan sambil makan makanan kecil. Tapi, jangan terjebak pada style yang sama jika style tersebut tidak efektif diterapkan untuk PhD students. Jadi, jangan segan-segan melakukan self-evaluation terhadap style kerja dan hasil yang sudah dicapai atau didapatkan.

4. Cari teman sebanyak mungkin, baik yang senasib maupun yang tidak :). Kita akan menyadari bahwa yang menghadapi kesulitan itu bukan hanya kita, tapi semua orang pasti punya problem, sekecil apapun itu. Membuka diri terhadap orang disekitar kita, khususnya di sekolah atau lab yang sama, sedikitnya bisa membantu. Kadang mereka bisa memberikan saran-saran berguna, berdasarkan pengalaman mereka, yang kadang tidak didapatkan dari supervisor. Teman ini jugalah yang natinya akan menampung cerita-cerita galau kita. Meskipun kadang mereka tidak memberikan saran apapun, setidaknya beban masalah sudah berkurang dengan jalan diceritakan pada orang lain. Jadi mulailah untuk menyapa orang disekitar kita ya, baik di kampus maupun di luar kampus.

5. Beri hadiah pada diri sendiri. Jadi PhD student tidak berarti kiamat terhadap jalan-jalan dan hang-out. Ada kalanya kita perlu bersenang-senang, pergi ke bioskop, makan-makan dan hang-out dengan teman sekolah, teman non-sekolah maupun belanja barang yang sudah lama diidamkan. Tentunya kalo sudah ada tahap prestasi yang kita lalui, misal, sehabis presentasi, atau sehabis supervisor meeting atau monthly report.Jangan terlalu pelit terhadap diri sendiri, karena hidup itu sebenarnya sudah "keras", jadi jangan menjalaninya lebih "keras" lagi.

Anyway, panjang juga curhat saya kali ini (dan saya merasa ini masih kurang untuk merangkum 3.5 tahun :P). Tapi, kelihatannya cukup untuk kompensasi blog yang tidak up-date selama 1.5 tahun ini.
Lain waktu, saya akan cerita tips cepat untuk menulis thesis ya, mungkin ini akan bermanfaat nantinya bagi teman-teman yang sudah sampai pada tahap penyelesaian.

Selamat hari pertengahan Desember, tetap berkarya dan semangat menyongsong pergantian tahun.


Ciao...:D

Saturday, July 14, 2012

Ulang Tahun dan Procrastination


Sepertinya tidak banyak yang saya kerjakan hari ini. Hanya merawat sel-sel peliharaan, mengganti media, membuat media baru, membuat feeder layer untuk stok minggu depan. Semua pekerjaan itu adalah pekerjaan rutin bagi saya yang bisa saya lakukan secara otomatis, ibaratnya, tanpa perlu berpikir lagi.

Jadi merasa bersalah karena saya merasa tidak banyak yang bisa saya kerjakan. Target "menata puzzle" juga tidak selesai hari ini. Menata puzzle ini pekerjaan baru bagi saya yang lumayan menyita waktu. Memang hari ini saya merasa kurang motivasi untuk mengerjakan "penataan puzzle" ini. Alasan pertama adalah hari ini Jum'at, hari menjelang weekend, aroma weekend sudah mulai terasa. Kedua, hari ini mendung, sehingga bawaannya mengantuk terus. Yang ketiga, hari ini hari lahir saya....Ulang Tahun...yayyyy..!!!

Pagi ini, setelah pesta lumpia dan batagor dengan teman-teman satu kantor, saya langsung masuk lab untuk mengerjakan pekerjaan rutin merawat sel. Jam 10.30, semua sudah selesai, waktunya minum kopi. Waktu mengambil air panas di common room, saya berpapasan dengan salah seorang teman satu group. "Why you are still here?" dia bertanya dengan nada heran. Saya yang ditanya lebih heran lagi, "What's wrong?". "Today is your birthday, go home and enjoy your life," katanya. Hehehe....saya hanya tertawa.

Sempat kepikiran juga mau pulang cepat, tapi, begitu ingat banyak data yang belum diolah, niat itu saya urungkan. Eh, tapi ini 'kan hari ulang tahun, masa' ulang tahun masih mengolah data juga. Akhirnya, niat procrastination*) itu tambah menguat setelah salah seorang Post Doc yang satu ruang dengan saya bilang..."you  're still sitting there. It's your birthday!". Okay deh kakak.....ternyata banyak yang mendukung niat saya untuk procrastinate. 

I am going home.....Relax, today is my birthday...:))

Jadi ingat tulisan yang saya dapat dari postingan milis ke milis sekitar tahun 2004-2006. Siapa penulis aslinya, saya kurang tahu. Yang jelas, alasan dibawah ini mengurangi rasa bersalah saya.


"Jika saya lihat dari hitungan hari (baca: alasan) ini, sebenarnya bukan salah sang mahasiswa bila ia tidak lulus ujian, karena belajar pun ia tidak sempat…
Tahukah anda, setahun itu hanya terdapat 365 hari yang kita tahu sebagai tahun akademik siswa… 
Mari kita hitung!


Hari Minggu
52 hari dalam setahun. Anda pasti tahu bahwa hari minggu itu adalah hari istirahat. Hari tersisa tinggal 313.


Hari Libur (Nasional maupun internasional)
Kurang lebih terdapat 13 hari libur dalam setahun, misalnya tahun baru, natal, dsb… Hari tersisa tinggal 300.


Libur Kuliah
Jelas semua mahasiswa akan libur dan tidak akan kuliah. Biasanya sekitar 2 bulan lebih, anggaplah sekitar 60 hari. Hari tersisa tinggal 240.


Tidur Yang paling baik adalah 8 jam sehari untuk kesehatan, jadi 120 hari terpakai. Hari tersisa tinggal 120.


Beribadah
Paling tidak 1 sampai 2 jam perhari kita beribadah, kita alokasikan 25 hari dalam setahun. Hari tersisa tinggal 95.


Bermain
Hal yang paling baik untuk kesegaran dan kesehatan adalah bermain. Paling tidak memerlukan 1 jam sehari. Terpakai lagi 15 hari. Hari tersisa tinggal 80.


Makan
Sekurang-kurangnya selama satu hari kita habiskan 2 jam untuk makan atau minum, hilang lagi 30 hari. Hari tersisa tinggal 50


Berbicara
Jangan lupakan, bahwa manusia adalah mahluk sosial yang butuh berinteraksi dengan orang lain. Kita ambil 1 jam perhari untuk berbicara. 15 hari terpakai lagi. Hari tersisa tinggal 35.


Sakit
Kitapun bisa sakit, baik ringan maupun berat. Itupun `kalau’ sakit, paling tidak 5 hari dalam setahun sudah cukup mewakili. Hari tersisa tinggal 30.


Ujian
Ujian itu sendiri biasanya dilaksanakan selama 2 minggu per semester. Berarti, 24 hari sudah teralokasi untuk ujian. Hari tersisa tinggal 6.


Refreshing
Untuk menyegarkan pikiran, refreshing itu perlu. Nonton dan jalan-jalan paling tidak menghabiskan waktu 5 hari dalam setahun. Hari tersisa tinggal 1.
Satu hari yang sisa itu khan HARI ULANG TAHUN….!!!
Masa’ harus belajar, sih?"






(Posting dalam rangka procrastination berkedok ulang tahun)

* Procrastination: at procrastinate
   Procrastinate:  to keep delaying something that must be done, often because it is unpleasant or    boring (Cambridge Advanced Learner's Dictionary)

Wednesday, March 07, 2012

Cangkir yang Hilang (Missing Cups)


Ketika membaca artikel tentang "Teaspoon Study" saya benar-benar dibuat kagum dengan ide sang peneliti untuk menelusuri tentang kecepatan hilangnya sendok teh disebuah lembaga penelitian di Australia. Selain menarik, bahasan tentang penelitian ini juga menggelitik. Saking menariknya penelitian ini, saya tertarik untuk membahas penelitian itu di blog ini, silahkan klik disini untuk melihat review artikel ala saya....:-))


Dan ternyata, bukan hanya benda kecil sejenis teaspoon (sendok teh) saja yang mudah menghilang dan sulit ditelusuri keberadaannya. Benda seperti cangkir atau mug pun ternyata mudah menghilang. Ini terjadi di Universitas tempat saya belajar. Padahal, jika dibandingkan secara fisik dengan teaspoon, cangkir ukurannya jauh lebih besar. Dengan ukuran yang lebih besar ini, sepertinya kemungkinan para cangkir untuk terselip atau secara tidak sengaja terbawa pulang, rasanya juga kecil.Tapi tidak demikian kenyataannya.


Minggu lalu, saya menerima e-mail dari pengurus Engineering and Science Graduate Centre (ESGC). Berikut isi e-mail nya:


E-mail dari ESGC tentang hilangnya cangkir-cangkir di Engineering and Science Graduate Centre, dari 100 cangkir yang disediakan, saat ini hanya tinggal 5 cangkir yang tersisa.
(Klik pada gambar untuk memperbesar)






Saat menerima e-mail ini, saya langsung teringat dengan artikel Teaspoon study, dan otomatis tertawa terpingkal-pingkal membaca e-mail ini. Kelihatannya, hilangnya cangkir ini juga bisa jadi topik menarik untuk diteliti. Kemana kira-kira perginya para cangkir ini? Apakah ada Mugnoid Planet yang sekiranya menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi para cangkir? Berapa kecepatan hilangnya cangkir-cangkir ini dalam sebulan? Perlukah satelit pelacak untuk mengetahui keberadaan para cangkir ini?

Untungnya, cangkir saya masih utuh tetap berada diatas meja. Sepertinya tidak ada niatan dari cangkir milik saya untuk hijrah ke Mugnoid Planet. Tapi, siapa yang tahu isi hati sebuah cangkir? Yang saya tahu hanya isi Cangkir, kadang berisi kopi, kadang berisi air putih, kadang juga berisi air putih yang bercampur dengan bekas kopi...hehehe.....









*thinking about spoonoid life and mugnoid life out-there*




Nottingham, March 2012





Saturday, November 26, 2011

Suka dan Tidak Suka

Saya suka winter, karena malam lebih panjang sehingga dapat cukup tidur
Saya tidak suka winter, karena sering turun salju yang bikin jalanan licin dan bikin terpleset

Saya suka summer, karena terang lebih lama sehingga bisa aktif terus
Saya tidak suka summer, karena tidak dapat cukup tidur

Saya suka sambal, jika dimakan dengan pecel lele atau bebek goreng
Saya tidak suka sambal, jika dicampur dengan makanan berkuah

Saya suka makan pecel, apalagi pecel ponorogo
Saya tidak suka pecel, yang dijual di warung nya Mbak Pur

Saya suka tempe, apalagi dimakan dengan sambel bawang
Saya tidak suka tempe, yang dibungkus tepung dan dijual di warungnya Mbak Pur

Saya suka coklat, kalo sedang lapar dan bosan
Saya tidak suka coklat, karena sering bikin batuk

Saya suka kopi, karena bisa bikin kenyang dan bikin mata melek
Saya tidak suka kopi, karena bikin sering bolak-balik ke kamar kecil

Saya suka sekolah, karena ada kesempatan untuk tambah teman dan jalan-jalan
Saya tidak suka sekolah, kalo harus bikin monthly report dan presentasi

Saya suka mengajar, kalo mahasiswanya enak diajak komunikasi
Saya tidak suka mengajar, kalo harus menyiapkan bahan kuliah

Saya suka penelitian di lab, kalo hasilnya sesuai dengan yang saya prediksi
Saya tidak suka di lab, setelah menunggu satu bulan, ternyata hasilnya negatif

Saya suka berada ditempat yang baru, jika teman-teman baik dan menyenangkan
Saya tidak suka berada di tempat yang baru, karena perlu kerja keras untuk menyesuaikan diri

Saya suka warna pink, karena terlihat manis dan lembut
Saya tidak suka warna pink, karena tidak pernah bisa menolak warna ini

Saya suka pakai celana jeans, karena terasa lebih luwes dan PeDe
Saya tidak suka pakai celana jeans, karena Ibu saya selalu protes kalo saya pakai jeans

Saya suka melihat-lihat facebook, karena jadi tahu kabar terbaru
Saya tidak suka facebook, karena mengintip kabar orang lain itu bisa menyita waktu

Saya suka pulang mudik ke Indonesia, karena bisa santai dan banyak makanan enak
Saya tidak suka pulang mudik ke Indonesia, karena merasa Indonesia itu sumpek dan kebanyakan orang

Saya suka tinggal di Inggris, karena semua serba teratur
Saya tidak suka tinggal di Inggris, terutama saat summer yang bikin saya kurang tidur

Saya suka weekend, karena saya jadi punya kesempatan untuk up-date blog ini...:-))
Saya tidak suka weekend, karena bikin malas di hari Senin

Suka atau tidak suka, itu pilihan dengan berbagai alasan
Suka atau tidak suka, semua harus dijalani.
Suka atau tidak suka, kalo sudah masuk blog saya harus baca tulisan iseng ini...:-))



Posting iseng di malam Sabtu



Saturday, June 18, 2011

Moving


Moving atau pindahan!!! Hal yang sebenarnya paling saya benci. Rasa kurang nyaman dengan pindahan ini adalah hal yang sangat manusiawi karena seseorang cenderung malas untuk meninggalkan zona nyaman. Membayangkan harus membereskan barang, angkut-angkut, merapikan barang di tempat yang baru, ganti alamat dan lain-lain, memang jadi faktor-faktor keberatan saya jika harus pindahan.

Sewaktu undergraduate, saya termasuk yang tidak pernah pindah tempat kos. Dulu pernah sempat berpikir untuk cari tempat kos baru karena tarif di kos yang lama naik. Tetapi setelah mencari dan mengunjungi beberapa tempat kos, tempat kos yang lama kok terlihat lebih nyaman dan murah ya. Alhasil saya urungkan niat untuk pindah kos hingga saya akhirnya lulus apoteker.

Lulus dari perguruan tinggi di Jogja, saya diterima kerja di Universitas swasta di Solo. Karena malas pindahan, saya nekad "nglaju" atau jadi komuter Jogja-Solo selama 1 bulan. Tapi ternyata....capeeekkkkk deh......serasa tua di jalan dan jadi tidak efektif. Setelah pulang, saya jadi tidak bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Akhirnya, saya mulai mencari tempat kos di Solo, dan pindahan lagi.

Tempat kos saya di Solo ini termasuk nyaman, bagus dan murah. Ibu Kos nya pun baik hati. Saya tentu betah sekali dan tidak melirik kos yang lain untuk pindah. Sampai akhirnya saya memutuskan pindah ke Bandung karena mengambil program Master di ITB. Hufff...terulang lagi peristiwa cari kos dan pindahan.

Pertama di Bandung, saya dapat tempat kos di daerah Cisitu Baru. Tempatnya bagus dan cukup nyaman, dekat pula dengan Pasar Simpang Dago. Tempat ideal memang untuk saya karena daerah ini merupakan tempat ideal untuk jajan dan membeli makanan. Hanya saya merasa kesepian di tempat baru ini. Di Kos Cisitu ini penghuninya mencapai 35 orang, sehingga kami saling tidak mengenal satu sama lain. Bagi saya yang terbiasa dengan budaya kos-kos-an di daerah Jogja dan Solo, keadaan seperti ini sangat tidak nyaman. Di kos Jogja dan Solo, sesama penghuni kos saling mengenal satu sama lain dan menyempatkan bertegur sapa.

Niat mencari tempat kos dengan penghuni yang lebih sedikit akhirnya tercapai. Teman saya di kampus menawarkan kos di dekat rumahnya, daerah Kebon Bibit, yang penghuni kosnya hanya sekitar 4-5 orang. Jumlah penghuni ideal menurut saya, karena dengan jumlah penghuni yang tidak terlalu banyak ini, kita bisa saling mengenal satu sama lain. Menginjak bulan keempat di Bandung, saya pun pindah ke tempat kos di Kebon Bibit ini. Alhamdulillah, suasananya nyaman, seperti yang saya harapkan. Saya pun bertahan ditempat ini hingga menyelesaikan program master saya.

Kembali ke Solo, saya pun booked tempat kos yang lama. Sekali lagi karena saya sudah merasa nyaman ditempat ini. Sampai akhirnya, alhamdulillah, saya memiliki rumah di Solo. Rumah sudah jadi, tapi untuk pindahan dari tempat kos ke rumah......maleeeessssss banget. Saya membayangkan sangat tidak nyaman jika harus tinggal sendirian dirumah, tentu akan lebih nyaman tinggal di tempat kos yang banyak temannya untuk ngobrol. Rumah saya akhirnya hanya jadi penginapan sementara, jika ortu atau ada saudara saya datang, maka saya pun tinggal di rumah itu. Begitu mereka pulang, saya pun kembali ke tempat kos di Mendungan.

Sampai akhirnya, saya harus berangkat melanjutkan sekolah ke Nottingham, barulah saya total pindahan ke rumah tersebut. Ya, karena kontrak di tempat kos itu sudah habis dan saya harus membereskan barang-barang saya yang tidak mungkin ditinggal di Kos Mendungan. Itupun disertai dengan tindakan menginap di kos mendungan tiap malam, hingga akhirnya saya berangkat ke Nottingham.

Di Nottingham, saya tinggal dengan keluarga teman. Kebetulan mereka punya kamar kosong yang bisa di share. Sampai akhirnya, di akhir tahun kedua saya di Nottingham, saya harus pindah lagi. Teman saya dan keluarganya harus pulang kembali ke Indonesia. Saya harus pindah atau moving lagi tentunya......................dan saya benci ini. Padahal saya sudah nyaman sekali tinggal ditempat yang lama itu. Saya sudah merasa akrab dengan jalan-jalan di daerah itu, dengan sopir bis yang melintas di daerah itu, dan terpenting sudah akrab dengan sesama penumpang di bus stop daerah itu. Salah satunya ya Simbah itu.

Saya pun dapat tempat baru nyaman, share dengan keluarga dari Indonesia juga. Saat menjelang pindahan adalah saat yang paling tidak saya sukai. Harus packing barang-barang, angkut-angkut dan menata di tempat yang baru. Belum lagi saat itu adalah awal Juni, bulan yang paling gawat bagi saya. Di bulan Juni ini saya harus menyiapkan 2 talk presentasi di grup, 1 presentasi poster, dan 2nd year report!!! Rasanya kalo bisa memilih, saya memilih untuk tidak pindah sampai semua report saya selesai. Barang-barang saya pun ternyata sudah mengembang 4 kali lipat dari semenjak saya tiba di Nottingham. Ini juga yang membuat saya bertekad untuk tidak belanja membeli barang-barang sampai saya lulus nanti. Sepertinya saya bisa menjalani ini. Tiga minggu di tempat baru ini, saya hanya belanja barang consumable dan belum belanja barang-barang yang tidak perlu. Lets see, berapa bulan saya bertahan dengan tekad ini.

Ditempat yang baru ini, bus stop nya tidak terlalu jauh dari rumah. Hanya perlu waktu semenit untuk jalan dari tempat tinggal baru ini ke bus stop. Pilihan bus nya pun lebih banyak, karena tempat tinggal saya yang baru ini terletak di jalan raya. Disini sekarang saya menunggu bus:




View Larger Map

Teman sesama penunggu bus di bus stop ini juga berganti. Cuma saya belum mendapatkan teman ngobrol selama menunggu bus di tempat ini. Eh, tapi ada sesama student Uni Nottingham juga yang sering bareng dengan saya berangkat dari bus stop ini. Hingga saat ini, hanya sapaan "morning" yang saya dapatkan. Mungkin nanti bisa meningkat jadi teman ngobrol seperti Simbah itu.



-Saturday afternoon at Queens Road-

Sunday, February 06, 2011

Antara Zona Nyaman dan Tidak Nyaman

Weekend kali ini tidak ada agenda jalan-jalan. Cuaca yang buruk alias angin kencang membuat saya membatalkan niat untuk berkunjung ke River Trent sekaligus mengintip kandang Nottingham Forest di daerah West Bridgford. Tidak terlalu jauh memang dari City Center, hanya angin kencang hari ini, dan juga yang saya rasakan saat pulang kampus Jum'at sore kemarin, serasa meniup kuat badan dan membawa saya terbang. Padahal badan saya termasuk kategori ukuran besar, coba bayangkan kalo saya berbobot dibawah 45 kilogram, mungkin saya sudah diterbangkan hingga Derby, district di sebelah Nottinghamshire.

Karena mati gaya dirumah, tidak tahu lagi apa yang harus dikerjakan, jadi yang saya kerjakan Sabtu ini adalah merenung. Merenung dan menulis tentunya, supaya ada bukti sudah melakukan perenungan. Bukankah harus ada bukti supaya tidak disangka hoax?

Saya merasa minggu ini adalah minggu yang berat. Ya, saya merasa capek dan lelah untuk minggu ini. Rasa capek itu semakin bertambah setelah membayangkan apa yang harus saya kerjakan minggu depan. Tugas dari supervisor saya untuk menjadi supervisor untuk 2 orang undergraduate project students membuat saya "juggling" dari satu lab ke lab lainnya. Ditahun kedua program PhD saya ini, saya harus menyelesaikan pekerjaan cell culture di Tissue Engineering lab, sedangkan project students yang harus saya bimbing, bekerja di Drug Delivery lab. Minggu ini dimulai dari menyiapkan dan belanja chemical, menyusun timeline dan rencana project, meng-arrange protokol apa yang harus mereka siapkan, serta berpacu dengan target kerja saya sendiri membuat tenaga dan pikiran saya terkuras. Belum lagi minggu depan saya harus mentraining mereka menggunakan instrument di laboratorium, mendemonstrasikan teknik kerja yang harus mereka kerjakan dan mengerjakan pekerjaan saya sendiri.

Perenungan ini adalah perenungan tentang pikiran "aneh"yang muncul lagi Kamis malam lalu. Pikiran yang sama waktu saya sedang berjuang untuk menyelesaikan tesis Master saya, sementara saya juga masih harus ujian matakuliah teori. Apa sih yang saya cari dengan sekolah? Buat apa sekolah lagi, toh tanpa sekolah saya juga bisa jadi dosen dan mengajar mahasiswa. Pun pikiran itu muncul lagi 2 malam yang lalu. Toh dengan gelar Master, saya sudah bisa dan berhak mengajar mahasiswa undergraduate (S1) di Indonesia.

Istighfar, itu yang saya lakukan saat pikiran itu muncul. Dan saya tiba-tiba ingat dengan kata-kata yang sering saya ucapkan pada teman-teman di kampus dulu, "Ayo, mundurlah satu langkah ke belakang untuk maju beribu langkah ke depan". Kata-kata itu yang selalu saya ucapkan ke teman-teman kolega saya di kampus untuk memotivasi mereka untuk tetap semangat melanjutkan sekolah. Ternyata susah juga ya menepati kata-kata sendiri.

Bagi dosen seperti saya, memang banyak sekali yang harus dikorbankan pada saat memutuskan untuk sekolah lagi. Meninggalkan kampus tempat kerja, meninggalkan mengajar dan melepas jabatan struktural, yang semuanya itu tentu terkait dengan konsekuensi finansial. Institusi pendidikan tempat saya bekerja memang termasuk yang baik dalam memperlakukan dosen yang sedang studi lanjut. Kami tetap menerima gaji pokok, sedangkan honor mengajar tidak. Kebijakan yang menurut saya memang adil. Memang selama studi lanjut, kami tidak diberi beban mengajar sehingga tidak menerima honor mengajar. Tapi, jumlah gaji pokok yang saya terima itu besarnya (atau kecilnya?) hanya sepertiga dari honor yang saya terima jika saya aktif mengajar dikampus alias sangat kecil. Pengorbanan lainnya adalah harus melepas proyek-proyek penelitian bernilai tinggi dalam skala rupiah, yang seharusnya bisa dikerjakan saat tidak studi lanjut. Bagi saya tidak mungkin mengurus proyek di Indonesia sedangkan saya sendiri sedang berada di UK.

Dari segi non finansial, banyak sekali yang harus ditinggalkan saat memutuskan untuk sekolah lagi. Seusia saya, saat ini, sebenarnya saya sudah cukup nyaman dengan apa yang ada disekeliling saya. Gelar master sudah ditangan, jabatan fungsional juga sudah lumayan untuk mengajar mahasiswa S1, proyek-proyek penelitian pun mulai berdatangan dari hasil menjalin lobi sana sini. Mengajar, mengawasi praktikum, sesekali siaran program kesehatan di radio, pulang, belanja, sesekali ke gym dan berenang, santai dirumah, sepertinya menjadi rutinitas yang terpola dengan rapi. Perawatan ke salon, pijat dan spa, kongkow dengan teman-teman, mencoba tempat makan baru, shopping, sesekali travelling ke negara tetangga, menjadi bagian kenyamanan yang kadang terasa berat untuk ditinggalkan.

Lalu apa yang saya cari dengan sekolah lagi? Well, saya sendiri sering tidak konsisten untuk menjawabnya. Saat saya sedang sadar dan menjadi pribadi yang baik, saya akan menjawab bahwa tujuan saya sekolah adalah untuk meningkatkan pengetahuan, menjawab rasa ingin tahu, menambah pengalaman, berjuang untuk ummat dijalan pendidikan dan sejuta alasan ideal lainnya. Saat sedang bosan dan capek dengan sekolah, saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini, dan kembali berpikir," Iya ya, ngapain capek-capek sekolah lagi?"

Saya yakin seyakin-yakinnya, pada waktu saya apply beasiswa untuk program PhD saat ini, saya sedang menjadi pribadi yang baik. Maka dari itu saya akhirnya memutuskan mendaftar program beasiswa. Tapi tidak pada saat saya dinyatakan diterima dan berhak atas beasiswa ini. Senang, tapi sedikit sekali rasa itu. Saat dinyatakan diterima beasiswa ini, saya justru menangis. Menangis dibalik senyuman, karena saya tidak mungkin menangis di depan orang-orang yang memberikan ucapan selamat pada saya. Sewaktu dinyatakan diterima beasiswa, yang saya rasakan adalah beban yang sangat berat. Beban untuk bersiap meninggalkan zona nyaman yang saya miliki menuju zona tidak nyaman.

Saya pernah merasakan bagaimana tidak enaknya berpindah dari zona nyaman ke zona tidak nyaman ketika saya memutuskan kuliah lagi untuk mengambil program master. Beban kuliah yang sangat tinggi, berada di lingkungan baru, dosen yang gaya mengajarnya berbeda dengan dosen-dosen saya waktu S1, menjadi beban berat bagi saya. Alhamdulillah, Allah selalu sayang dengan hambanya. Dibulan ketiga sejak saya menginjak zona tidak nyaman saat mengambil program S2, saya mulai merasa nyaman dengan teman-teman yang sangat baik, sehingga zona tidak nyaman itu berubah menjadi zona nyaman hingga saya menyelesaikan program master saya.

Menerima beasiswa untuk program PhD ini membuat saya kembali harus bersiap untuk mengeluarkan langkah saya dari zona nyaman. Saya ingat dengan kata-kata teman baik saya, bahwa semakin dewasa usia seseorang, semakin sulit rasanya untuk melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman. Hal itu juga saya rasakan. Alhasil 6 bulan sejak dinyatakan diterima beasiswa, saya tidak melakukan progress apapun. Padahal beasiswa saya akan expired dalam tempo 1 tahun jika dalam 1 tahun saya tidak mengambil jatah beasiswa itu.

Dan sekali lagi, Allah memang maha pembolak-balik hati. Dialog kecil dengan diri sendiri akhirnya meyakinkan saya untuk menempuh segala usaha agar jatah beasiswa itu tidak hilang karena expired. Betapa ratusan kandidat dari berbagai negara berusaha mendapatkan beasiswa itu, sedangkan saya yang sudah mendapatkannya, malah berkeinginan untuk melepaskannya. Akhir 2008, saya memantapkan hati menerima beasiswa ini. Segala usaha juga saya lakukan untuk berburu universitas yang sesuai dengan bidang minat saya. Saya juga mengajukan pengunduran diri dari jabatan struktural untuk lebih berkonsentrasi mencari sekolah. Bulan Juni 2009, segala sesuatunya telah siap, dan tinggal mempersiapkan keberangkatan. Akhir September 2009 akhirnya saya menginjakkan kaki di UK, dan juga melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman.

Dari kenyataan yang saya alami, saya berpendapat bahwa sebenarnya zona tidak nyaman itu tidak pernah ada. Kenyamanan dan ketidak-nyamanan semua itu ada dibawah kendali diri kita sendiri. Tentu saya juga merasa tidak nyaman ketika menginjakkan kaki di UK. Bahasa yang berbeda, budaya yang berbeda, makanan yang berbeda, membuat segalanya jadi tidak nyaman. Tapi setidaknya saat ini saya sudah merasakan bahwa zona itu sedikit demi sedikit sudah berubah menjadi nyaman bagi saya. Teman-teman yang baik dan siap menolong disekeliling saya, jalan-jalan ke tempat-tempat terkenal di UK, bertemu dengan orang-orang baru dengan berbagai karakter, bertemu dengan teman-teman dari berbagai negara, membuat saya merasa mulai nyaman dengan semua ini. Dan ini berarti bahwa saya sudah mulai memperluas zona nyaman saya dan menyulap zona tidak nyaman menjadi zona nyaman...yayy......

To summarize, untuk memperluas zona nyaman, tentunya kita harus berani bergerak keluar dari zona nyaman itu sendiri dan merubah zona tidak nyaman menjadi zona nyaman. Bukankah jika zona nyaman yang kita miliki semakin luas, maka kita akan semakin leluasa untuk bergerak? Dan jangan lupa untuk selalu menempatkan ikhlas, yaitu melakukan segala sesuatunya hanya karena Allah, dan sabar dihati kita.




Nottingham, 5 February 2011
Renungan Sabtu malam






Wednesday, November 10, 2010

Si Mbah itu.......


Sampai saat ini saya juga tidak tahu siapa nama kakek tua itu. Cukuplah saya menyebut dia dengan "Simbah", panggilan untuk orang yang dituakan dalam bahasa jawa. Simbah ini adalah penduduk asli negara United Kingdom, alias British asli. Tercermin sekali dari penampilan fisknya yang jelas "bule" dan dandanan klasiknya.

Perkenalan saya dengan Simbah ini berawal sejak Oktober tahun 2009, saat saya baru menjadi bagian dari penduduk kota Nottingham. Perkenalan yang berawal dari tempat pemberhentian bis kota atau bus stop. Ya, hampir setiap pagi saya selalu menunggu bus bernomer 13 atau Maroon line di Dennis Avenue, siap membawa saya ke kampus University of Nottingham di area University Park. Disini tepatnya lokasi bus stop itu:



Dilihat dari keadaannnya, tempat pemberhentian bus ini memang bukan tempat yang nyaman untuk mengobrol. Pertama kali bertemu dengan Simbah, sepertinya tidak ada yang istimewa dari Simbah ini. Perawakannya termasuk kecil untuk ukuran bule pada umumnya.Mungkin juga dikarenakan beliau sudah tua, sehingga kemungkinan tulang-tulang dan otot-otot pada tubuhnya sudah mengalami penyusutan volume. Usianya kira-kira 70 tahun, atau bahkan lebih. Saya yakin pasti lebih dari 70 tahun, tapi entahlah, saya selalu gagal menebak usia penduduk asli Inggris. Kadang yang saya perkirakan sudah diatas 30 tahun ternyata masih berusia dibawah 25 tahun. Tapi bisa juga sebaliknya, saya kira masih 50 tahun, ternyata sudah 60 tahun.

Yang menarik dari pertemuan pertama saya dengan Simbah ini adalah sapaan dia dan pertanyaannya kepada saya yang agak bikin saya "gelagapan" menjawabnya.

"Morning", itu sapaan pertama Simbah kepada saya dan itu sapaan lazim bagi penduduk UK jika bertemu orang, baik yang dikenal maupun tidak dikenal. Saya pun menjawab, "morning", disertai dengan senyum. Sembari menunggu bus 13 yang memang selalu telat, Simbah pun mengajak saya ngobrol, sekedar mengisi waktu. Mungkin karena melihat saya memakai jilbab, pertanyaan pertamanya adalah ," Are you from Saudi Arabia?". "No, I am from Indonesia", jawab saya. "Ooh, from Indonesia, nice country", puji Simbah. "Do you study in the university?", tanya Simbah lebih lanjut. "Yes, I am first-year student in pharmacy, PhD program", saya menjelaskan. "Can you speak Arabic?" pertanyaan lanjutan Simbah, yang mungkin dia ajukan karena melihat saya memakai jilbab dan pasti saya seorang muslim. Dengan menyesal saya menjawab,"Sorry, I can't. But I know some words in Arabic, because I read Qur'an". "So, do you know about Al Fatihah?", tanya Simbah lebih lanjut. "Of course, I know about it. This is the opening Surah in Qur'an", saya menjawab sembari mati-matian berfikir keras untuk mentranslate dari Bahasa Indonesia ke Bahasa Inggris. Saat itu saya kira-kira baru 3 minggu tinggal di negara eropa ini, sehingga bisa dibayangkan betapa kacaunya English saya, meskipun sudah dinyatakan lolos tes IELTS. "What the meaning of Surah Al Fatihah? Can you explain to me?", tanya Simbah lagi. Gubraakkk......itu reaksi saya jika dikartunisasi. Saya tahu arti Surat Al Fatihah dalam bahasa Indonesia, tetapi jika diminta mentranslate dalam English, terus terang level saya belum sampai disitu. Saya pun berusaha menjelaskan sebisanya, "The Surah explains about the Merciful of our god, Allah". Jawaban yang pendek, dan sepertinya kurang menjelaskan bagi Simbah. Tapi jujur, saya tidak punya kosakata yang cukup untuk menjelaskan Ar rahman dan Ar Rahim. Untunglah, bus 13 yang kami tunggu akhirnya tiba, sehingga saya bisa menyembunyikan kebingungan saya. Tapi terus terang saya menyesal sekali tidak bisa menjelaskan dengan baik kepada Simbah. Pulang kampus, akhirnya saya bertanya ke paman "google" untuk terjemahan Al Fatihah dalam bahasa Inggris, siapa tahu lain waktu Simbah akan bertanya lagi.

Pertemuan saya dengan Simbah di bus stop itu terus berlangsung, meskipun tdk setiap hari. Kadang memang saya tidak mengambil rute bus 13, kadang juga saya berangkat lebih pagi dari jadwal biasanya. Jadwal Simbah naik bis adalah jam 8.18 pagi atau jam 8.44 pagi.

Tapi pagi itu, saat saya bareng lagi dengan Simbah, saya dikejutkan lagi dengan sesuatu dari Simbah. Saat melihat saya tiba di bus stop itu, dia tersenyum senang melihat saya. Sambil merogoh sesuatu dibalik jaketnya, dia berjalan mendekati saya. Wah, ada apa lagi nih, dalam hati saya berkata. Ternyata Simbah mengeluarkan secarik kertas catatan yang disimpan di balik jaketnya. Setelah mendekati saya, dia berkata, "Selamat pagi", menyapa saya. Ha...ha...ha...sempat kaget juga, ternyata kertas yang dikeluarkan Simbah adalah kertas contekan untuk menghafalkan kata "Selamat pagi". Saya pun menjawab salamnya dengan mengucap selamat pagi juga. Simbah senang sekali karena saya bisa mengerti kata dalam Bahasa Indonesia yang diucapkannya. Salut buat Simbah yang tertarik untuk mempelajari kata dalam Bahasa Indonesia.

Simbah pernah bercerita pada saya, bahwa dia banyak mempelajari keadaan negara-negara lain dari banyak menonton acara di BBC. Jadi Simbah banyak tahu tentang- tsunami di Aceh, letak Indonesia, bahwa Indonesia terbagi atas tiga zona waktu,- didapatnya dari rajin menonton siaran BBC. Sepertinya Simbah juga rajin membaca dan tertarik dengan negara Indonesia. Atau mungkin dia tentara veteran yang pernah berdinas di Indonesia pada jaman perang kemerdekaan? Entahlah.....lain waktu akan saya tanyakan pada Simbah.

Saya beranggapan bahwa Simbah sangat tertarik dengan negara Indonesia. Terbukti ketika Merapi bergejolak, Simbah bertanya tentang bagaimana kabar keluarga saya di Indonesia akibat ada gunung meletus tersebut. Ini menunjukkan bahwa Simbah mengikuti terus perkembangan berita tentang Indonesia. Saya menjelaskan pada Simbah bahwa memang letusan Merapi kali ini luar biasa hebatnya, tapi semoga keluarga saya aman karena keluarga saya tidak tinggal di daerah Jogjakarta. Tapi, ada kemungkinan bahwa abu gunung merapi akan menutupi seluruh pulau Jawa, dan saya berharap bahwa ini tidak akan terjadi karena jika terjadi maka keluarga saya juga akan terkena efek gunung Merapi.

Lain waktu dia bertanya pada saya, apakah saya pernah ke Australia. Saya menjawab bahwa saya belum pernah ke Australia. Simbah agak heran, karena dia tahu bahwa Australia terletak dekat dari Indonesia. Hmmm...berarti simbah juga paham letak geografis Indonesia. Jarang sekali orang British yang tahu pasti dimana Indonesia itu. Yah, mungkin ini juga dari hasil menonton BBC.

Persahabatan saya dengan Simbah di Bus Stop terus berlangsung hingga sekarang, meskipun tidak setiap hari kami bertemu. Kadang, ketika pulang kampus di sore hari, saya juga berjumpa Simbah di Bus 13. Tentunya saya akan menyapa Simbah dengan ramah, dan Simbah pasti membalas sapaan saya dengan senyumnya. Kadang obrolan kami sambil menunggu bis juga hanya seputar cuaca hari ini. Kadang juga Simbah menanyakan berapa jumlah koleksi buku di perpustakaan University saya. Obrolan ringan sembari menunggu Bus 13 yang selalu tidak tepat waktu.

Anyway, perkenalan dan persahabatan saya dengan Simbah yang terjadi di Bus Stop ini akan saya simpan sebagai kenangan saat bersekolah di Negeri Ratu Elizabeth ini. Mungkin nanti juga akan saya ceritakan pada anak atau cucu saya. Satu hal yang belum sempat saya laksanakan adalah mengambil foto Simbah. Ya.....suatu kali nanti pasti saya ambil foto Simbah sebagai kenang-kenangan dan cerita nanti setelah pulang ke Indonesia.


(Tulisan dimalam Senin, sembari mendengar radio Swaragama, bukan BBC)

Wednesday, August 25, 2010

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia


Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja diciptakan- Nya. Malaikat pun bertanya, "Apa yang baru saja Engkau ciptakan, Tuhan?" "Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama Bumi," kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan hujan Amazon. Tuhan melanjutkan, "Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara seimbang".

Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa. Di Eropa sebelah utara, Tuhan menciptakan tanah yang penuh peluang dan menyenangkan seperti Inggris, Skotlandia dan Perancis. Tetapi di daerah itu, Tuhan juga menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang.

Di Eropa bagian selatan, Tuhan menciptakan masyarakat yang agak miskin, seperti Spanyol dan Portugal, tetapi banyak sinar matahari dan hangat serta pemandangan eksotis di Selat Gibraltar.

Lalu malaikat menunjuk sebuah kepulauan sambil berseru, "Lalu daerah apakah itu Tuhan?" "O, itu," kata Tuhan, "itu Indonesia. Negara yang sangat kaya dan sangat cantik di planet bumi. Ada jutaan flora dan fauna yang telah Aku ciptakan di sana. Ada jutaan ikan segar di laut yang siap panen. Banyak sinar matahari dan hujan. Penduduknya Ku ciptakan ramah tamah,suka menolong dan berkebudayaan yang beraneka warna. Mereka pekerja keras, siap hidup sederhana dan bersahaja serta mencintai seni."

Dengan terheran-heran, malaikat pun protes, "Lho, katanya tadi setiap negara akan diciptakan dengan keseimbangan. Kok Indonesia baik-baik semua. Lalu dimana letak keseimbangannya? "

Tuhan pun menjawab dalam bahasa Inggris, "Wait, until you see the idiots I put in the government." (tunggu sampai Saya menaruh 'idiot2' di pemerintahannya)


(Copy paste dari milis tetangga)